Dolar AS juga semakin menguat seiring tingginya tingkat suku bunga AS sehingga mendorong investor memindahkan dana mereka ke aset yang menjanjikan imbal hasil lebih kompetitif. Hal ini memicu arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Pada perdagangan pendek pekan ini, mata uang Nusantara sampai menembus level Rp 17.500/US$, terlemah sepanjang sejarah.
Perdagangan di pasar keuangan Indonesia pekan ini berlangsung singkat, hanya tiga hari karena memperingati Kenaikan Yesus Kristus. Namun selama tiga hari tersebut, kinerja rupiah boleh dibilang tidak impresif.
Mengawali pekan, Senin (11/5/2026), rupiah ditutup melemah 0,22% ke Rp 17.412/US$. Kemudian pada Selasa (12/5/2026), mata uang Ibu Pertiwi menutup hari dengan depresiasi 0,51% ke Rp 17.500/US$ yang menjadi posisi penutupan (closing) terlemah sepanjang masa.
Sehari sesudahnya, Rabu (13/5/2026), rupiah memang berhasil menguat 0,2% ke Rp 17.465/US$. Meski begitu, rupiah tetap membukukan pelemahan 0,53% sepanjang perdagangan pekan ini.
Rupiah kompak melemah bersama mata uang utama Asia lainnya. Sepanjang pekan ini, yen Jepang, yuan China, rupee India, won Korea Selatan, dolar Taiwan, baht Thailand, ringgit Malaysia, dolar Singapura, peso Filipina, sampai dolar Hong Kong terdepresiasi masing-masing 1,3%, 0,25%, 1,64%, 2,46%, 0,83%, 1,43%, 0,73%, 1,08%, 0,01%, dan 1,87%.
Terlihat bahwa pelemahan sejumlah mata uang Benua Kuning lebih dalam dari rupiah. Namun bisa saja rupiah tertolong oleh pekan perdagangan yang pendek.
Keperkasaan dolar AS menjadi penyebab kelesuan mata uang Asia. Minggu ini, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) menguat 1,4%.
Kemarin, indeks ini bahkan menyentuh posisi tertinggi 7 April atau lebih dari sebulan terakhir.
Perang di Timur Tengah menjadi pendongkrak performa dolar AS. Perang yang meletus sejak akhir Februari itu telah melambungkan harga energi.
Akibatnya, ancaman inflasi menjadi begitu nyata. Austan Goolsbee, Gubernur Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) Chicago, bahkan sampai menyebut inflasi bisa begitu tinggi sehingga menyebabkan ekonomi menjadi terlalu panas alias overheating.
“Jika Anda melihat komponen non-energi, seperti jasa, maka ada indikasi bahwa ekonomi sudah overheating. The Fed harus berpikir bagaimana memecah rantai eskalasi inflasi,” tegas Goolsbee dalam wawancara dengan NPR, seperti dikutip Bloomberg News.
(mfd/naw)




























