Logo Bloomberg Technoz

Harga Minyak Masih Tinggi, Rupiah di Luar Negeri Terus Melemah

Tim Riset Bloomberg Technoz
15 May 2026 08:21

Karyawan menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai kontrak rupiah di pasar luar negeri mulai melemah lagi. Setelah dibuka stagnan, hari ini (15/5/2026) rupiah offshore sempat menguat 0,17% ke posisi Rp17.537/US$. Namun, tak berselang lama, rupiah kembali terpeleset 0,22% ke posisi Rp17.607/US$ pada 07:55 WIB. 

Harga minyak mentah Brent masih bertahan tinggi di level US$105,72 per barel, sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$102 per barel. Kenaikan harga minyak ini mengerek dolar Amerika Serikat (AS) dan menguat 0,13% ke posisi 98,95. 

Kenaikan harga minyak mentah terjadi lantaran blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran masih berlangsung, dan perairan di kawasan tersebut masih berbahaya bagi pelayaran. 


Sejak konflik Timur Tengah terjadi pada awal Maret, hanya sedikit kapal tanker yang berhasil keluar dari Teluk Persia, sehingga menghambat aliran energi untuk konsumen global. 

Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Presiden sekaligus pemimpin tertinggi China Xi Jinping pada Kamis, (14/5/2026), dan keduanya membahas upaya menjaga Selat Hormuz tetap terbuka demi mendukung perdagangan energi, sekaligus meningkatkan aliran minyak AS ke China, menurut pejabat Gedung Putih, seperti dikutip dari Bloomberg News.