Logo Bloomberg Technoz

Keluhan Importir Saat Rupiah Loyo, Opsi PHK Mencuat 

Sultan Ibnu Affan
14 May 2026 17:20

Karyawan menghitung mata uang rupiah di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung mata uang rupiah di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) menyoroti tren pelemahan nilai tukar rupiah belakangan yang menyentuh di atas Rp17.500 per dolar AS.

Ketua Umum GINSI Subandi mengatakan pelemahan rupiah tersebut turut membuat seluruh harga bahan barang, baik bahan baku, barang modal hingga konsumsi makin mahal.

Itu lantaran harga beli barang importir biasanya menggunakan mata uang dolar AS. Selain itu, biaya transportasi juga turut naik seperti surcharges dan freight atau ongkos kapal.


"Di sisi lain, daya beli masyarakat dan konsumen juga sedang tidak baik-baik saja sehingga produk kurang terserap di tingkat pasar dan konsumen,” kata Subandi saat dihubungi, Kamis (14/5/2026).

“Hal ini bisa terjadi pengurangan volume impor, produksi atau pengurangan dari ukuran, kualitas maupun kenaikan harga jual," kata Subandi.