Hari ini, rupiah tidak diperjualbelikan di pasar spot karena libur dan cuti bersama. Namun, pergerakan rupiah di pasar offshore bisa mengindikasikan bahwa sentimen terhadap rupiah sedikit mereda, serta adanya intervensi dari Bank Indonesia di pasar.
Sebagai pasar perdagangan rupiah di luar negeri, terutama melalui instrumen NDF, memungkinkan. investor global melakukan transaksi terhadap rupiah tanpa melakukan transaksi fisik.
Pasar ini umumnya berlangsung di jantung keuangan internasional seperti Singapura dan Hong Kong, serta aktif di luar jam operasional pasar domestik.
Pergerakan rupiah di pasar offshore sering jadi indikator awal bagi arah sentimen investor global terhadap aset berdenominasi rupiah di Indonesia.
Penguatan rupiah di pasar offshore umumnya bisa memperbaiki sentimen di pasar spot. Namun, lantaran hari ini pasar spot tutup, sehingga bisa jadi acuan utama ekspektasi arah rupiah pada pembukaan perdagangan domestik di hari berikutnya.
Sebagai catatan, kemarin rupiah spot ditutup menguat 0,2% di posisi Rp17.465/US$. Ini penguatan pertamanya setelah melemah dalam tiga hari beruntun. Penguatan tersebut diperkirakan akibat intervensi pemerintah di pasar obligasi.
Sebab, pada Selasa (12/5/2026), pemerintah melalui Kementerian Keuangan menyebut akan melakukan intervensi di pasar obligasi melalui dana stabilisasi obligasi atau bond stabilization fund (BSF).
Instrumen tersebut digunakan untuk membeli kembali Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder guna menjaga stabilitas harga obligasi dan menahan kenaikan imbal hasil. Dampaknya kemarin cukup terasa.
Pergerakan imbal hasil (yield) di pasar surat utang negara (SUN) bergerak turun, mengindikasikan adanya aksi beli terjadi di pasar, terutama di rentang tenor 1 tahun hingga 10 tahun.
Aksi beli yang paling agresif di tenor 5 tahun dengan penurunan yield 7,8 bps menjadi 6,6%.
(dsp)




























