Hanya Alternatif
Meski begitu, Laode menegaskan bahwa penggunaan CNG hanya akan menjadi alternatif pengganti. Menurutnya, sebagai alternatif, CNG akan lebih dahulu melalui beberapa tahapan sebelum akhirnya bisa dipasarkan untuk konsumsi ritel.
“Sebenarnya alternatif dan pengganti kan, artinya sama ya. Cuma kalau kita bilang pengganti itu berarti masif sama besar, kalau alternatif kita ada tahapan-tahapannya. [Kebijakan] yang benar itu kita ada tahapan-tahapannya,” ungkap Laode.
Sebelumnya,Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas) Moshe Rizal menyebut salah satu alasan pemerintah lebih memilih menggunakan LPG ketimbang CNG ketika menggulirkan program migrasi dari minyak tanah adalah karena aspek keamanan.
Moshe mencatat produk CNG memiliki tekanan sekitar 200 hingga 250 bar atau setara 3.600 psi, sedangkan LPG hanya sekitar 5 hingga 10 bar.
Walhasil, dia khawatir jika kini masifikasi CNG justru dilakukan melalui pemanfaatan tabung 3 kg, bakal terjadi risiko keamanan.
Terlebih, tabung CNG 3 kg yang digunakan harus didesain secara khusus, bahkan terdapat potensi ukurannya lebih besar dari tabung LPG 12 kg.
“Saya sangat tidak menganjurkan ya. Itulah kenapa waktu kita konversi dari minyak tanah ke gas itu yang dipilih adalah LPG. Ada alasannya. Satu alasan utamanya yang paling kritikal adalah masalah safety. Ini bayangkan kita masyarakat ya, masyarakat menggunakan CNG,” kata Moshe ketika dihubungi, baru-baru ini.
"Nah kita banyak sekali dengar masalah LPG yang meledak, yang leaking, dan lain sebagainya. Jadi kalau kita di sektor migas tuh enggak pernah ada yang bilang CNG itu lebih aman daripada LPG, itu enggak ada. Kenapa? Karena kenyataannya memang berisiko tinggi makanya yang memakai CNG itu adalah industri,” tegas dia.
(smr/wdh)





























