KPAI juga mengingatkan agar kompetisi pendidikan tidak berubah menjadi ruang yang mempermalukan atau menjatuhkan mental anak. Polemik yang berkembang di media sosial, kata dia, perlu dikelola secara bijak agar tidak memicu perundungan digital maupun serangan personal terhadap peserta yang masih berstatus anak.
Dalam keterangannya, KPAI mendorong penyelenggara dan dewan juri melakukan evaluasi terbuka serta objektif terhadap seluruh proses perlombaan, termasuk mekanisme penilaian dan validasi jawaban. Jika ditemukan kekeliruan, maka perlu dilakukan klarifikasi dan pemulihan yang adil demi menjaga kepercayaan publik dan kesehatan psikologis peserta.
Aris juga meminta masyarakat dan pengguna media sosial tetap menjaga etika dalam menyampaikan kritik. Menurut dia, identitas anak tidak boleh diekspos secara berlebihan di ruang publik.
KPAI menilai ke depan setiap kompetisi pendidikan perlu memiliki mekanisme pengaduan dan keberatan yang jelas, transparan, serta ramah anak agar persoalan serupa dapat ditangani secara lebih baik.
Polemik LCC 4 Pilar MPR RI Kalimantan Barat sebelumnya viral di media sosial setelah munculnya protes dari peserta SMAN 1 Pontianak terkait dugaan perbedaan penilaian jawaban pada babak final lomba.
Dalam video yang beredar, peserta menilai jawaban yang disampaikan memiliki isi serupa dengan tim lain, namun mendapat nilai berbeda dari dewan juri.
(dec/del)































