Logo Bloomberg Technoz

Di sisi bersamaan dengan itu, sejumlah saham mencatat pelemahan luar biasa dan menjadi top losers. Di antaranya adalah saham PT Sinergi Inti Plastindo Tbk (ESIP) yang amblas 15%, PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) jatuh 14,8%, dan saham PT Olympus Strategic Indonesia Tbk (NATO) drop 14,1%.

Bursa Saham Asia juga terbenam di zona merah, bagai lautan merah.

Indeks Hang Seng (Hong Kong), TAIEX (Taiwan), PSEi (Filipina), Straits Times (Singapura), SENSEX (India), CSI 300 (China), KLCI (Malaysia), TOPIX (Jepang), NIKKEI 225 (Jepang), SETI (Thailand), dan Shanghai Composite (China), yang melemah masing–masing 1,05%, 0,79%, 0,73%, 0,61%, 0,57%, 0,56%, 0,41%, 0,26%, 0,22%, 0,07%, dan 0,03%.

Sejumlah saham yang selama ini menjadi penopang IHSG berguguran, hingga tertekan amat dalam. Salah satu yang paling berat bobotnya adalah emiten–emiten milik Prajogo Pangestu.

Saham BREN misalnya, turun 4,52% ke level Rp4.440/saham, disusul oleh saham DSSA dengan bobot besar yang turun 3,9% menuju level Rp1.480/saham.

Berikut selengkapnya berdasarkan data Bloomberg, Jumat (8/5/2026).

  1. Barito Renewables Energy (BREN) mengurangi 7,78 poin
  2. Dian Swastatika Sentosa (DSSA) mengurangi 5,31 poin
  3. Bumi Resources Minerals (BRMS) mengurangi 5,27 poin
  4. Merdeka Copper Gold (MDKA) mengurangi 3,95 poin
  5. Sinar Mas Multiartha (SMMA) mengurangi 3,83 poin
  6. Merdeka Gold Resources (EMAS) mengurangi 3,1 poin
  7. Merdeka Battery Materials (MBMA) mengurangi 2,91 poin
  8. United Tractors (UNTR) mengurangi 2,71 poin
  9. Aneka Tambang (ANTM) mengurangi 2,64 poin
  10. Amman Mineral Internasional (AMMN) mengurangi 2,44 poin

Melemahnya IHSG turut tersengat sentimen yang datang dari global. Eskalasi ketegangan di Timur Tengah rasanya kembali memanas menyusul pecahnya bentrokan baru antara pasukan Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Ketegangan yang kembali meningkat menyeret kenaikan harga minyak mentah di pasar global. Hingga memicu kecemasan pasar lebih luas atas pasokan energi dan menguji ketahanan belakangan ini.

“Sama seperti kita menghancurkan mereka lagi hari ini, kami akan melakukannya jauh lebih keras, dan jauh lebih keras di masa depan, jika mereka tidak segera menandatangani kesepakatan!” tulis Trump dalam unggahan di media sosial.

Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan, pasukan AS membalas serangan Iran terhadap kapal perusak Angkatan Laut yang tengah berlayar di Selat Hormuz pada Kamis. 

“Investor saat ini berasumsi akan ada penyelesaian dalam sekitar satu bulan terkait perang Iran atau Selat Hormuz,” kata salah satu pendiri Hedge Fund Ten Cap Investment Management, Jun Bei Liu. 

“Dalam jangka pendek mungkin akan ada volatilitas dan berita seperti hari ini, tetapi pasar akan kembali membeli saat harga turun kecuali eskalasi baru menjadi lebih serius.”

Namun memang tak menampik, insiden ini dinilai mengancam prospek kesepakatan damai untuk menyudahi perang yang telah berlangsung selama 10 minggu tersebut.

Perhatian pasar saat ini tertuju sepenuhnya pada selat strategis tersebut, yang secara efektif telah ditutup sejak berlangsungnya masa konflik. Penutupan ini memicu guncangan pasokan energi yang belum pernah terjadi sebelumnya, di mana pengiriman krusial minyak mentah terhenti dan sumur–sumur minyak di seluruh area terpaksa berhenti beroperasi. 

Jalur perairan utama tersebut saat ini tengah berada dalam kondisi blokade ganda, dengan Teheran menghalangi lalu lintas kapal, sementara AS melarang kapal–kapal bersandar atau meninggalkan pelabuhan Iran.

“Semua orang sangat menantikan deeskalasi,” antara Iran dan AS, ujar Manajer Portofolio GuideStone, Josh Chastant, mengutip Bloomberg News.

(fad)

No more pages