“Dan apabila Indonesia perlu lagi tambahan, sudah ditambah 50 juta maka Indonesia sekarang sudah ada komitmen dari Pemerintah Rusia 150 juta barel kita bisa simpen di Indonesia untuk menghadapi masalah-masalah gejolak ekonomi,” tutur Hashim.
Sekadar informasi, PT Pertamina (Persero) memastikan siap mendukung kebijakan pemerintah dalam memastikan ketahanan energi nasional, termasuk dengan melakukan impor minyak mentah dari Rusia sesuai aturan yang berlaku.
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengungkapkan perseroan saat ini masih berkoordinasi dan berkomunikasi dengan pemerintah dalam memastikan rencana impor minyak mentah dari Rusia.
Saat ini, kata Baron, rencana impor tersebut masih dalam tahap penjajakan, baik melalui skema government to government (G2G) maupun business to business (B2B).
“Terkait dengan rencana impor minyak mentah dari Rusia, saat ini Pertamina masih terus berkoordinasi dan komunikasi dengan pemerintah,” kata Baron ketika dihubungi, Rabu (22/4/2026).
Baron menjelaskan mekanisme pengadaan komoditas energi, termasuk tender atau skema lainnya, bakal disesuaikan perseroan dengan kebijakan pemerintah dan hasil pembahasan yang berjalan.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan sinyal pasokan minyak mentah dari Rusia dapat didatangkan ke Indonesia mulai bulan ini, tetapi dia mengaku belum dapat mengungkapkan volume impornya.
Bahlil juga mensinyalir Indonesia tidak mengimpor bahan bakar minyak (BBM) dari Rusia. Alasannya, impor BBM Indonesia sejauh ini hanya dilakukan dari negara Asia.
“Kalau untuk crude mungkin bulan-bulan ini bisa. Insyaallah [bulan ini minyak Rusia mulai dikirim ke Indonesia],” kata Bahlil kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (17/4/2026).
Di sisi lain, Bahlil mengungkapkan Indonesia dan Rusia masih bakal melakukan beberapa tahapan pembahasan untuk memfinalisasi rencana pembelian gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG).
“LPG masih dalam finalisasi. Lebih cepat lebih baik,” tutur Bahlil.
Adapun, Prabowo menyebut pertemuannya dengan Putin di Istana Kremlin, Moskwa adalah untuk berkonsultasi ihwal kondisi geopolitik terkini, hingga ingin memperkuat kerja sama di bidang ekonomi dan energi.
Pertemuan tersebut digelar Prabowo pada hari ini, Senin (13/4/2026), di tengah gejolak pasar minyak dan gas (migas) akibat perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran, yang menyebabkan jalur perdagangan migas dunia di Selat Hormuz ditutup.
Prabowo menyatakan ingin berkonsultasi ihwal kondisi geopolitik dunia yang saat ini mengalami perkembangan sangat cepat kepada Putin, terlebih Rusia memiliki peran sangat positif dalam menghadapi kondisi geopolitik yang penuh ketidakpastian.
“Karena itu kami merasa sangat perlu untuk konsultasi bagaimana kita hadapi situasi ke depan dan terutama kalau bisa kita terus mempererat kerja sama; terutama di bidang ekonomi dan energi,” kata Prabowo di Istana Kremlin, ditayangkan secara daring, Senin (13/4/2026).
Terpisah, Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev menyatakan Indonesia tengah menjajaki peluang pembelian produk minyak dari Rusia dalam kontrak jangka panjang, menyatakan proses negosiasi tengah berlangsung.
Tsivilev sendiri hadir dalam pertemuan kenegaraan antara Putin dan Prabowo di Istana Kremlin, Senin (13/4/2026). Dalam kesempatan itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia turut hadir.
Sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita Sputnik dan Interfax, Tsivilev menyatakan Rusia telah menerima permintaan dari Indonesia untuk memasok produk minyak dan saat ini tengah membahas kontrak jangka panjang dengan harga yang saling menguntungkan.
“Indonesia sebelumnya membeli sebagian besar produk energinya dari negara lain, seperti Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, dan Australia. Namun kini mereka melihat isu ini dalam konteks situasi terkini di Selat Hormuz serta keandalan pasokan. Saat ini kami secara serius tengah mempertimbangkan kontrak jangka panjang dengan harga yang saling menguntungkan,” ujar Tsivilev dalam wawancara dengan Channel One, sebagaimana dilaporkan Sputnik dan Interfax, Selasa (14/4/2026).
(azr/ros)































