Sedang hanya Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), KLCI (Malaysia), dan KOSPI (Korea Selatan) yang masih berhasil menguat 0,93%, 0,47%, dan 0,03%.
Melemahnya sejumlah Bursa Saham Asia imbas konflik Timur Tengah yang masih terus memanas.
Eskalasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel belum ada tanda–tanda mereda, setelah kedua pihak gagal menemui kesepakatan untuk menggelar putaran baru perundingan damai.
Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, di tengah kecamuk tersebut, kapal–kapal patroli bersenjata Iran dilaporkan melepaskan tembakan ke arah kapal komersial. Di saat yang sama, militer AS mengklaim telah mencegat dua tanker minyak milik Iran.
Berdasarkan unggahan media sosial UK Maritime Trade Operations pada Rabu setempat, sebuah kapal kargo dan kapal kontainer menjadi sasaran tembak di jalur perairan vital tersebut. Sementara itu, Komando Pusat AS membantah laporan firma analitik Vortexa yang sebelumnya menyebut supertanker Iran berhasil menembus blokade Angkatan Laut AS.
Pihak Komando Pusat melalui unggahan di platform X menyatakan tanker Hero II dan Hedy telah dicegat oleh pasukan AS baru–baru ini. Selain itu, kapal Dorena saat ini berada di bawah pengawalan kapal perusak Angkatan Laut AS di Samudra Hindia.
Sejak blokade AS dimulai, pasukan angkatan laut telah menyita satu kapal kargo yang terafiliasi dengan Iran, memeriksa sebuah tanker minyak yang terkena sanksi di timur Sri Lanka, dan memutar balik sedikitnya 29 kapal lainnya.
Ketegangan di Timur Tengah memantik perebutan kendali atas Selat Hormuz hingga lumpuhnya Selat tersebut, jalur yang melayani seperlima ekspor energi dunia. Terlebih lagi, sikap Teheran yang semakin agresif dalam menghadapi tekanan AS di tengah kebuntuan negosiasi.
Pasar komoditas menyebut konflik ini telah melenyapkan pasokan satu miliar barel minyak dari pasar global.
Minyak West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di rentang harga tinggi US$94,34 per barel, setelah melonjak lebih dari 5% point–to–point seperti yang dilihat data Bloomberg siang hari ini. Sementara itu, Brent menyentuh harga US$103,27 pada perdagangan Kamis (23/4/2026) melejit 8% ptp.
Lonjakan harga minyak, kekhawatiran inflasi akibat gangguan pengiriman, serta memanasnya konflik tersebut, menjadi penyebab utama bergugurannya IHSG dan Bursa Saham Asia.
Terlebih lagi bila inflasi terus merangsek naik, kondisi ini memperbesar peluang Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, atau bahkan menaikkannya.
“Ketegangan tetap tinggi. Dengan kebuntuan antara AS dan Iran saat ini, harga minyak cenderung akan terus merangkak naik sampai ada pihak yang melunak,” papar Dennis Kissler, Wakil Presiden Senior perdagangan di BOK Financial Securities Inc.
“Semakin lama aliran minyak tidak melewati selat tersebut, semakin tinggi harga yang akan kita hadapi.”
(fad)






























