Larangan penggunaan smartphone semakin meluas secara global, seiring kekhawatiran para dewan pembentuk undang-undang dan orang tua terhadap akses tak terkendali anak-anak ke media sosial, juga kemampuan mereka untuk berkonsentrasi pada pekerjaan akademis.
Lebih dari setengah negara bagian di Amerika Serikat memiliki larangan atau pembatasan penggunaan ponsel di kelas, sementara larangan di Korea Selatan mulai berlaku pada bulan Maret.
Sebagian besar sekolah di Inggris sudah memiliki kebijakan yang membatasi penggunaan ponsel, yang berarti undang-undang yang diusulkan akan memperkuat kewenangan guru untuk menegakkan larangan tersebut. Hampir semua sekolah dasar dan 90% sekolah menengah membatasi penggunaan ponsel pada siang hari, menurut survei tahun lalu dari Children’s Commissioner.
Pendidikan di Inggris merupakan sektor yang kebijakannya didesentralisasikan. Ini berarti, tanggung jawab atas sekolah-sekolah dikelola secara terpisah oleh pemerintah Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara.
“Yang ingin kita lakukan adalah melindungi anak-anak dari gangguan dan distraksi yang disebabkan oleh ponsel selama jam sekolah, serta menciptakan lingkungan sekolah yang tenang dan fokus yang mendukung perilaku belajar dan kesejahteraan,” kata Baroness Smith dalam debat di House of Lords pada hari Senin.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer pekan lalu memanggil eksekutif regional dari perusahaan teknologi termasuk YouTube milik Google, Meta Platforms Inc., TikTok, dan Snap Inc. untuk menegur mereka terkait konten daring yang tidak pantas.
Inggris belum memberlakukan larangan media sosial, tetapi saat ini sedang berkonsultasi dengan orang tua dan anak-anak mengenai langkah-langkah seperti batasan usia, fitur desain yang membuat ketagihan, dan pengamanan pada chatbot AI. Pemerintah kemungkinan akan menambahkan pembatasan lebih lanjut ke RUU Kesejahteraan Anak dan Sekolah setelah konsultasi tersebut.
(bbn)































