Logo Bloomberg Technoz

Kemunduran yang cepat terjadi

Setelah finis di posisi kedelapan Premier League pada 2022 dan mencapai semifinal UEFA Europa Conference League, manajer saat itu Brendan Rodgers memperingatkan bahwa klub perlu mengubah ekspektasi mereka.

Pandemi Covid berdampak besar pada King Power—peritel bebas bea milik Vichai Srivaddhanaprabha—karena perjalanan udara terhenti. Dampaknya masih terasa, dan setelah delapan pertandingan tanpa kemenangan di awal musim 2022-23, Rodgers mengatakan Leicester perlu fokus mencapai 40 poin.

Itu menjadi kontras tajam dengan pernyataan sebelumnya dari mantan pelatih Liverpool FC tersebut, yang kerap berbicara tentang mengganggu dominasi tim-tim mapan di Premier League. 

Leicester hampir melakukannya, nyaris lolos ke UEFA Champions League pada hari terakhir musim 2020 dan 2021.

Di bawah Rodgers, mereka juga memenangkan FA Cup—mengalahkan Chelsea FC asuhan Thomas Tuchel—namun kemunduran dengan cepat terjadi di tengah kurangnya investasi berkualitas.

Jadi ketika Leicester City mencoba bertahan di posisi mereka, justru mereka terperosok ke belakang. Mereka masih memiliki skuad berisi pemain internasional seperti Jamie Vardy, James Maddison, dan Youri Tielemans, tetapi Rodgers dipecat pada April 2023 ketika klub berada di zona degradasi. 

Mantan pelatih Aston Villa dan Norwich City, Dean Smith, datang untuk menggantikan, namun gagal menyelamatkan mereka.

Dalam tiga tahun sejak kepergian Rodgers, Leicester telah memiliki tujuh manajer, dengan berbagai pihak mempertanyakan pengambilan keputusan karena tim berpindah-pindah gaya tanpa identitas jelas. 

Klub Leicester City (Dok. Instagram @lcfc)

Nasib Keuangan klub

Dilansir dari BBC, sisi keuangan Leicester City dipertanyakan setelah terdegradasi ke Liga III sepak bola Inggris.

Setelah dikurangi enam poin karena melampaui batas kerugian maksimum hingga musim 2023-24 sebesar £20,8 juta, bulan lalu klub kembali melaporkan kerugian besar lainnya (£71,1 juta) untuk musim 2024-25. 

Ironisnya, musim kedua tersebut terjadi saat mereka masih berstatus klub Premier League.

Leicester sebelumnya menjalankan rasio gaji terhadap pendapatan lebih dari 100% selama dua musim hingga 2023-24—artinya mereka membayar gaji lebih besar daripada pemasukan yang dihasilkan. Rasio ini memang turun menjadi 82% pada musim degradasi dari Premier League—sebagian besar karena pemasukan hak siar—namun mereka tetap memiliki sejumlah pemain dengan bayaran tinggi.

Para pemain tersebut memang memiliki klausul pemotongan gaji saat terdegradasi, tetapi Leicester masih memiliki beberapa pemain dengan gaji tertinggi di EFL Championship musim ini.

Banyak pemain bergaji besar—seperti Patson Daka, Ricardo Pereira, dan Harry Winks—akan habis kontraknya pada musim panas. Namun, Oliver Skipp masih terikat kontrak hingga 2029, sementara Jannik Vestergaard tetap memiliki kontrak setelah mendapatkan perpanjangan tiga tahun tepat sebelum ulang tahunnya yang ke-31 pada 2024.

Selain itu, ada pula persoalan pinjaman Leicester dari bank investasi Australia, Macquarie Group. Pada September, mereka mendatangi Macquarie untuk mencairkan lebih awal pembayaran yang seharusnya diterima dari transfer Tom Cannon, Kasey McAteer, dan James Justin. Pada Januari, mereka kembali memperpanjang pinjaman untuk mencakup sisa pembayaran “parachute” hingga Juni 2027.

‘Top’—julukan Aiyawatt Srivaddhanaprabha—sebelumnya telah menghapus ratusan juta pound pinjaman. Namun kini tampaknya Macquarie yang menyediakan banyak pendanaan di muka, dengan menggunakan pemasukan masa depan.

Dengan pendapatan hak siar yang jauh lebih kecil di EFL League One, akan tiba saatnya ketika tidak banyak lagi aset yang bisa dijadikan jaminan pinjaman.

Mulai musim depan, klub-klub di League One juga dibatasi hanya boleh membelanjakan 60% dari pendapatan tambahan sepak bola—seperti hadiah kompetisi, pemasukan dari piala, atau biaya transfer yang diterima—untuk pengeluaran terkait pemain.

Dengan banyak pemain yang masih berada di klub dengan gaji—dalam standar League One—sangat tinggi, Leicester akan kesulitan beroperasi dalam batasan tersebut.

(spt)

No more pages