Sripeni mengungkapkan perpres program PLTS 100 GW tersebut bakal menjadi landasan Kementerian ESDM untuk merevisi aturan RUEN. Setelah itu, aturan RUEN yang telah direvisi bakal menjadi landasan untuk menggarap revisi PP KEN.
Meskipun begitu, dia belum dapat mengungkapkan target rampungnya perancangan Perpres ihwal PLTS 100 GW tersebut.
“Jadi ini 7 [GW] versus kalau sampai masa pemerintah Pak Prabowo 2029, 7 [GW] versus 100 [GW]. Berarti kan harus ditata ya,” tegas dia.
Sekadar catatan, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengungkapkan dalam RUPTL PLN 2025—2034 total kapasitas terpasang PLTS secara kumulatif ditargetkan mencapai 17,1 GW.
Akan tetapi, berdasarkan arahan Presiden Prabowo Subianto, total kapasitas PLTS terpasang bakal mencapai 100 GW. Saat ini, kata Eniya, total PLTS terpasang sudah mencapai 1,5 GW dan khusus PLTS atap saja mencapai 895 MW.
“Secara keseluruhan itu sudah mencapai 1,5 GW dan khusus PLTS atap ini sudah mencapai 895 MW. Kita masih berjuang nih untuk bisa lebih dari 1 GW,” kata Eniya melalui tayangan video, dalam National Solar Transition Forum, di Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Adapun, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sempat mengungkapkan berencana merevisi RUPTL PLN 2025—2034, sebab pemerintah sedang mempercepat dedieselisasi hingga membangun PLTS.
Bahlil mengungkap keputusan tersebut diwacanakan usai Presiden Prabowo Subianto membentuk satuan tugas (satgas) transisi energi. Satgas tersebut bakal mempercepat penggunaan energi alternatif, termasuk panas bumi.
Bahlil menyatakan lokasi PLTS tersebut bakal tersebar di berbagai wilayah, utamanya di daerah-daerah yang sebelumnya memiliki pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD).
Adapun, lewat dokumen RUPTL Tahun 2025—2034, PLN bakal menambah kapasitas listrik terpasang mencapai 69,5 GW pada periode 2025 sampai dengan 2034.
Sebagian besar kapasitas setrum itu berasal dari pembangkit EBT mencapai 42,6 GW, sekitar 61% dari keseluruhan rencana kapasitas terpasang.
Sementara itu, PLN memiliki ruang sebesar 16,6 GW untuk menambah kapasitas listrik dari pembangkit fosil. Alokasi pembangkit fosil itu mengambil porsi mencapai 24% dari total kapasitas pembangkit dalam dokumen RUPTL tersebut.
Di sisi lain, PLN bakal ikut mendorong investasi pada kapasitas penyimpanan listrik atau storage mencapai 10,3 GW selama 10 tahun mendatang.
(azr/wdh)




























