Logo Bloomberg Technoz

“Proyek interkoneksi Sumatra—Jawa yang menggunakan teknologi HVDC, dengan panjang sirkuit 112 kilometer, menjadi salah satu proyek prioritas pemerintah yang saat ini sedang dalam tahap persiapan,” kata Darmawan melalui keterangan tertulis, Selasa (21/4/2026) petang.

Dalam lokakarya kajian tersebut, sejumlah pemilik teknologi juga memaparkan perspektifnya terhadap pengembangan HVDC. Antara lain; GE Vernova, Hitachi Energy, Siemens Energy, State Grid Power Indonesia, serta PLN.

Selain itu, skema bisnis pengembangan HVDC juga dipaparkan oleh PLN hingga Kansai Electric Power Indonesia, Voksel, dan KEPCO.

Sekadar informasi, saat ini pemerintah tengah mempersiapkan proyek Interkoneksi Sumatra—Jawa (ISJ) dengan panjang sirkuit sekitar 112 km untuk mengalirkan potensi energi terbarukan dari Sumatra ke Pulau Jawa.

Berdasarkan kajian Kementerian ESDM, teknologi HVDC baik melalui saluran udara maupun kabel bawah laut bakal dimanfaatkan untuk proyek tersebut.

Selain itu, pemerintah juga berencana mengembangkan jaringan transmisi 500 kilovolt (kV) high voltage alternating current (HVAC) di Sumatra.

Untuk di Kalimantan, terdapat potensi enerig sebesar 13 gigawatt (GW) dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Sungai Kayan dan Mentarang membutuhkan jaringan transmisi berskala besar menuju Jawa dan rencananya bakal dimanfaatkan untuk kebutuhan industri smelter di Sulawesi.

Dalam kesempatan sebelumnya, Darmawan mengatakan perseroannya tengah memproses kelanjutan proyek interkoneksi Sumatra—Jawa.

Darmawan memastikan proposal investasi interkoneksi Sumatra—Jawa itu telah diakomodasi dalam RUPTL PLN 2025—2034.

“[Interkoneksi Sumatra—Jawa] dalam proses, di dalam RUPTL sudah masuk,” kata Darmawan di kawasan PLTP Ijen, Bondowoso, Jawa Timur, Kamis (26/6/2025).

Interkoneksi antarpulau itu menjadi salah satu program strategis PLN untuk menghubungkan pasokan listrik berbasis air dan panas bumi dari Sumatra menuju sistem Jawa & Bali.

PLN sebelumnya telah melakukan lelang dan studi bersama untuk rencana pengembangan interkoneksi tersebut tahun lalu.

Sejumlah perusahaan transmisi dan listrik asal China, Jepang, dan Prancis ikut dalam perundingan atau bidding document megaproyek dengan nilai investasi mencapai US$6,5 miliar tersebut.

Beberapa perusahaan yang terlibat di antaranya State Grid Corporation of China (SGCC), Hitachi ABB Power Grids, Kansai Electric Power Co. Inc., dan Électricité de France S.A.

Lewat dokumen RUPTL yang baru, PLN menargetkan interkoneksi Sumatra—Jawa mulai beroperasi komersial pada 2031. Hanya saja, PLN membeberkan masa pembangunan interkoneksi itu bisa memakan waktu 7 tahun sampai dengan 8 tahun.

Menurut kajian PLN, panjang interkoneksi Sumatra—Jawa diperkirakan mencapai 1.174 km.

Sementara itu, panjang backbone dan fishbone diproyeksikan masing-masing mencapai 3.614 km dan 3.799 km. 

PLN menargetkan, interkoneksi itu bisa menyalurkan listrik energi baru terbarukan (EBT) secara bertahap mencapai 2,6 GW pada 2033.

(wdh)

No more pages