“Kehadiran perempuan dalam jajaran kepemimpinan dinilai memberikan perspektif yang lebih luas pada proses pengambilan keputusan organisasi. Hal ini sekaligus memperkuat upaya perusahaan dalam menciptakan budaya kerja yang lebih beragam dan inklusif,” ujar Hery.
Tidak hanya dari sisi jumlah, peran perempuan di BRI juga semakin terlihat dalam struktur organisasi. Saat ini, sebanyak 25,63 persen pekerja perempuan telah menempati posisi manajerial di berbagai level.
Posisi tersebut mencakup jenjang manajer junior hingga manajemen tingkat atas. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki peluang yang terbuka luas untuk berkembang di sektor perbankan.
Untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan perempuan, BRI menghadirkan program BRILiaN Women Leaders Indonesia atau BWLI. Program ini menjadi wadah strategis dalam mengembangkan talenta perempuan di lingkungan perusahaan.
Melalui BWLI, peserta mendapatkan pelatihan kepemimpinan secara intensif. Selain itu, mereka juga memiliki kesempatan untuk memperluas jejaring profesional dan meningkatkan personal branding.
Pemberdayaan Perempuan dari Internal hingga UMKM
Komitmen BRI terhadap kesetaraan juga mencakup aspek inklusivitas yang lebih luas. Perusahaan membuka peluang kerja bagi perempuan penyandang disabilitas sebagai bagian dari upaya menciptakan kesempatan yang adil.
Hery menegaskan bahwa langkah ini menjadi wujud nyata komitmen perusahaan dalam memberikan akses yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Penempatan perempuan penyandang disabilitas di lingkungan kerja mencerminkan komitmen perusahaan dalam membuka akses kesempatan kerja yang adil bagi semua pihak. Dengan demikian, perempuan, termasuk penyandang disabilitas, tetap memiliki peluang yang sama untuk berkembang, berkontribusi, dan mencapai kemandirian ekonomi,” ujar Hery.
Upaya pemberdayaan perempuan tidak berhenti di lingkungan internal perusahaan. BRI juga memperluas dampaknya melalui berbagai program yang menyasar masyarakat luas.
Salah satu inisiatif yang menjadi andalan adalah Ekosistem Ultra Mikro. Program ini dijalankan bersama PT Permodalan Nasional Madani dan PT Pegadaian.
Melalui ekosistem tersebut, BRI membuka akses pembiayaan yang lebih luas bagi pelaku usaha kecil, termasuk perempuan. Program ini menjadi langkah konkret dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis kerakyatan.
Hingga saat ini, Ekosistem Ultra Mikro telah menjangkau sekitar 23 juta nasabah di berbagai wilayah Indonesia. Mayoritas dari mereka adalah pelaku usaha mikro yang membutuhkan dukungan untuk berkembang.
Tidak hanya memberikan akses pembiayaan, program ini juga menyediakan pendampingan usaha. Pelaku usaha dibekali dengan literasi keuangan serta akses terhadap layanan keuangan terintegrasi.
Pendekatan ini memungkinkan perempuan untuk meningkatkan kapasitas usaha secara berkelanjutan. Dengan demikian, mereka dapat naik kelas dan memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.
BRI meyakini bahwa pemberdayaan perempuan memiliki dampak luas terhadap perekonomian nasional. Perempuan yang berdaya tidak hanya meningkatkan kesejahteraan keluarga, tetapi juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.
“Dengan pendekatan yang holistik tersebut, BRI berupaya memastikan bahwa perempuan memiliki kesempatan yang setara untuk meningkatkan kapasitas usaha, memperkuat ketahanan ekonomi keluarga, serta berkontribusi lebih luas dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan yang inklusif dan berkelanjutan,” pungkas Hery.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, BRI menunjukkan bahwa semangat Kartini tetap relevan di era modern. Kesetaraan gender tidak hanya menjadi nilai, tetapi juga strategi dalam menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Ke depan, peran perempuan diharapkan akan semakin kuat dalam berbagai sektor. Dengan dukungan yang tepat, perempuan Indonesia memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan menjadi penggerak utama ekonomi nasional.
(tim)






























