Begitu juga dengan permintaan pada seri PBS030 yang meski bertenor 2 tahun ikut naik menjadi Rp5,19 triliun dari sebelumnya Rp4,07 triliun.
Di sisi lain, tenor panjang juga mencatatkan lonjakan bid-to-cover ratio, seperti PBS038 dari 1,32 kali pada lelang 7 April, menjadi 5,84 kali pada lelang kemarin.
Sebaliknya permintaan investor pada tenor pendek melemah secara signifikan.
Misalnya untuk seri SPNS04052026 (2 bulan) turun menjadi Rp4,19 triliun dari sebelumnya Rp5,31 triliun. Begitu juga dengan seri SPNS03022027 (tenor 1 tahun) yang tercatat turun menjadi Rp4,39 triliun dari sebelumnya Rp5,31 triliun. Sementara, SPNS12102026 (tenor 6 bulan) mencatatkan penurunan tajam menjadi Rp1,61 triliun dari sebelumnya Rp3,07 triliun.
Dengan lemahnya permintaan di tenor pendek, bid-to-cover ratio seri SPNS juga ikut anjlok. Misalnya bid-to-cover ratio seri SPNS04052026 turun dari 10,62 kali menjadi 4,19 kali, sementara SPNS12102026 juga merosot dari 6,14 kali menjadi cuma 1,62 kali.
Pada lelang sebelumnya, investor cenderung mengakumulasi tenor-tenor pendek. Namun sebaliknya, lelang sukuk kali ini diwarnai aksi investor yang memperpanjang durasi investasi.
Penurunan ini mengindikasikan bahwa investor sepertinya mulai mengurangi eksposur pada aset berjangka pendek di segmen sukuk dan beralih ke instrumen lain seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang dianggap menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Reli Beli Asing Mulai Berlanjut
Memasuki kuartal II-2026 agaknya menjadi penanda berlanjutnya reli pembelian SBN oleh investor asing. Melansir data Kementerian Keuangan, pada kuartal I-2026 kepemilikan investor asing pada Surat Berharga Negara (SBN) sempat menyusut.
Posisi asing sempat turun 2,9% dari Rp878,8 triliun pada Januari menjadi Rp853,6 triliun pada Maret. Dengan rincian, kepemilikan asing di pasar SUN turun 2,73% dari Rp859,1 triliun menjadi Rp835,5 triliun, dan di pasar SBSN turun 8,12% dari Rp19,7 triliun menjadi Rp18 triliun.
Meski secara nominal SUN menyusut lebih banyak, tapi secara persentase berkurangnya porsi asing di SBSN alias sukuk justru paling besar, lantaran basisnya lebih kecil.
Perubahan alokasi asing juga terlihat pada tenor. Pada kuartal I-2026, investor asing secara agresif mengurangi eksposur pada tenor pendek (0-1 tahun), dan tenor menengah-panjang (6-10 tahun). Sebaliknya, pada tenor 2 hingga 5 tahun, kepemilikan asing justru naik dari Rp249,8 triliun menjadi Rp303,4 triliun dalam dua bulan.
Memasuki bulan April yang menandai masuknya kuartal II-2026, investor asing mencatatkan net buy di pasar SBN sebesar US$297,6 secara bulanan.
Walaupun masih tersisa sentimen risk-off di kalangan investor menyusul ketidakpastian geopolitik, nampaknya pasar SBN domestik masih menarik dari sisi imbal hasil.
Di sisi lain, saat akhir kuartal I-2026 posisi asing berkurang di pasar SUN, porsi asing di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) malah naik. Sebagai instrumen penarik dana asing jangka pendek (hot money), nampaknya imbal hasil yang ditawarkan SRBI cukup menarik.
Laporan Bank Indonesia mencatat investor asing terus mengakumulasi SRBI sejak awal 2026.
Kepemilikan pada Maret sempat turun 4,56% menjadi Rp143,91 triliun dari posisi Februari Rp150,79 triliun. Namun, posisi investor asing di SRBI pada November 2025 masih di posisi Rp86,66 triliun.
Angka ini lalu melonjak pada Desember menjadi Rp114,05 triliun, dan Januari tercatat naik menjadi Rp121,9 triliun. Artinya, sejak November 2025 hingga Maret 2026 investor asing telah bertambah 65,82% atau Rp57,12 triliun.
Meski porsi asing di SRBI bertambah, kinerja rupiah sepanjang kuartal I-2026 tidak juga mulus dan tercatat melemah telah 1,59%. Begitu juga memasuki kuartal II-2026 rupiah telah terdepresiasi 0,87% sejak awal April.
Sehingga, jika ditarik secara year to date, rupiah telah anjlok sebesar 2,65%. Posisi rupiah menjadi mata uang Asia terlemah kedua setelah rupee India melemah 3,87%, yang kemudian disusul won Korea Selatan di posisi ketiga dengan pelemahan 2,54%.
(dsp)


























