Adapun indeks Shenzhen Comp. (China), CSI 300 (China), Shanghai Composite (China), dan Hang Seng (Hong Kong), yang terpeleset masing–masing 0,72%, 0,34%, 0,27%, dan 0,04%.
Jadi, IHSG adalah indeks dengan pelemahan paling dalam di Asia.
Sentimen yang menggerakkan IHSG hari ini datang dari pengumuman terbaru dari MSCI yang kembali membekukan kajian atau review konstituen saham dari Indonesia dalam rebalancing periode Mei 2026, biarpun otoritas pasar modal telah melakukan reformasi.
Dalam keterangan resminya, MSCI masih mengevaluasi konsistensi dan efektivitas data dan kebijakan atas reformasi tersebut, termasuk soal batasan baru free float ke 15%.
Atas penundaan rebalancing konstituen dari Indonesia tersebut, maka MSCI belum akan menambahkan saham Indonesia MSCI Investable Market Indexes, tidak ada kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF), tidak ada penyesuaian Number of Share (NOS), dan kenaikan kelas dalam kategori indeks.
Menyitir Phintraco Sekuritas, kebijakan ini mencerminkan sikap hati-hati MSCI dalam menjaga kualitas investability pasar Indonesia.
“Secara keseluruhan, langkah ini menunjukkan meskipun reformasi telah dilakukan oleh regulator Indonesia, MSCI masih membutuhkan waktu untuk memastikan implementasi kebijakan tersebut benar–benar efektif sebelum kembali melakukan normalisasi rebalancing indeks,” papar Phintraco.
Adapun MSCI disebut–sebut akan menghapus saham yang masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC) dan secara terbatas menggunakan data kepemilikan di atas 1% untuk menyesuaikan estimasi free float. Namun, data baru dari reformasi belum sepenuhnya digunakan hingga proses evaluasi selesai.
Stockbit Sekuritas menyebut dalam laporan terbarunya pagi hari ini, saham dalam daftar HSC akan dihapus dari MSCI Indexes, sejalan dengan perlakuan MSCI terhadap saham sejenis di pasar lain (preseden Hong Kong).
“Daftar HSC saat ini berisi sembilan emiten yang merupakan konstituen MSCI saat ini dan berpotensi terkena dampak langsung,” terang riset Stockbit Sekuritas.
“Kami menilai update ini sesuai dengan ekspektasi kami sebelumnya risiko downgrade Indonesia ke frontier market adalah tail risk, bukan base case. Tidak ada sinyal baru yang mengarah pada eskalasi risiko downgrade, di mana MSCI mengakui reformasi yang telah dilakukan dan memilih untuk melanjutkan proses asesmen, bukan eskalasi tindakan.”
Namun, overhang belum sepenuhnya terangkat karena katalis upside dari passive flows baru akan muncul jika pembekuan FIF/NOS dicabut, yang kemungkinan tidak terjadi sebelum MSCI market accessibility review pada Juni 2026.
“Variabel yang perlu dicermati adalah potensi penyesuaian free float oleh MSCI menggunakan data kepemilikan kurang dari 1%. Yang menentukan apakah bobot mereka di indeks berubah signifikan adalah bagaimana MSCI mengklasifikasikan berbagai jenis pemegang saham (strategis/korporat vs non–strategis) dan seberapa besar perubahan free float yang dihasilkan,” sebut Stockbit.
Faktor yang perlu dimonitor ke depan, hasil MSCI Market Accessibility Review (sebelum Juni 2026) sebagai penanda apakah pembekuan dicabut, dan metodologi MSCI dalam menggunakan data KSEI kurang dari 1% untuk penyesuaian free float IHSG.
(fad/aji)


























