Logo Bloomberg Technoz

Pada 1 Juli 2024, Iforte yang juga merupakan anak usaha PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), mengambilalih dan menjadi pengendali baru IBST. Menyusul aksi korporasi ini, Iforte menggelar tender wajib atau mandatory tender offer (MTO), sesuai Peraturan OJK No. 9/POJK.04/2018 tanggal 25 Juli 2018 tentang Pengambilalihan Perusahaan Terbuka (POJK 9/2018).

Sesuai dengan peraturan tersebut, MTO dilanjutkan dengan pengalihan kembali saham (refloat) IBST.

"Mempertimbangkan hal-hal tersebut, termasuk perkembangan refloat, perseroan memutuskan untuk mengajukan rencana go private dan delisting," seperti dikutip dari keterbukaan informasi.

Sebagai informasi, mengacu data BEI, jumlah pemegang saham publik (free float) IBST kurang dari 1%, tepatnya hanya 0,05%. Posisi ini bahkan jauh di bawah batas lama minimal free float 7,5%.

Free Float 15%

Pada 6 April 2026, PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) mengumumkan rencana go private dan delisting.

Manajemen beralasan, keputusan delisting karena perusahaan tidak mampu memenuhi syarat minimal free float, meski sejumlah upaya telah ditempuh.

"Namun demikian, sampai dengan tanggal Keterbukaan Informasi ini perseroan masih belum  dapat memenuhi ketentuan minimum free float yang dipersyaratkan dan terdapat kemungkinan bahwa perseroan tidak dapat memenuhi ketentuan transisi minimum free float sebagaimana dimaksud dalam  Surat Keputusan Direksi PT Bursa Efek Indonesia No. Kep 00045/BEI/03-2026 perihal Perubahan Peraturan Nomor I-A tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas selain Saham yang Diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat," seperti dikutip dari keterbukaan informasi, Senin (6/4/2026).

Sebesar 2,58% dimiliki PT Iforte Solusi Infotek, sementara porsi masyarakat di bawah 5% (free float) hanya 0,09%.

Kemarin, PT Indointernet Tbk (EDGE) juga mengumumkan aksi korporasi serupa, delisting seiring dengan rencana go private. Menyusul aksi ini, EDGE menawarkan pembelian kembali saham publik lewat skema tender offer di harga Rp11.500/saham.

EDGE bakal meminta persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 22 April 2026.

Langkah go private diambil seiring perubahan strategi dalam grup Digital Edge, termasuk penguatan integrasi bisnis pusat data regional serta kebutuhan fleksibilitas lebih besar dalam pengambilan keputusan.

Selain itu, saham EDGE dinilai memiliki likuiditas rendah di pasar, sehingga fungsi bursa sebagai sarana exit bagi investor publik menjadi kurang optimal.

Go private dan delisting bukan hanya kali ini saja terjadi. Namun, gelombang aksi korporasi ini belakangan cukup ramai, mulai dari EDGE hingga Grup Djarum, dan bertepatan dengan kebijakan free float 15%, yang merupakan bagian dari reformasi bursa saham RI demi menjaga kasta di MSCI.

(red)

No more pages