Logo Bloomberg Technoz

Kemarin, harga emas dunia di pasar spot ditutup di US$ 4.821,2/troy ons. Melemah 0,25% dibandingkan hari sebelumnya.

Pada perdagangan intraday, harga emas sempat jatuh hampir 2%.

Dinamika di Timur Tengah masih menjadi pemberat langkah harga emas. Upaya damai Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali dipenuhi tanda tanya.

Akhir pekan lalu, Iran sempat membuka kembali Selat Hormuz. Namun tidak berselang lama, selat itu kembali ditutup karena Teheran menilai ada pelanggaran perjanjian gencatan senjata.

Pada 22 April waktu AS, periode gencatan senjata akan berakhir. Presiden AS Donald Trump mengungkapkan tidak akan terburu-buru memperpanjang masa gencatan senjata. Harus ada kesepakatan terlebih dahulu.

“Saya tidak akan tergesa-gesa dan membuat kesepakatan yang buruk. Kami punya waktu,” tegas Trump, sebagaimana diwartakan Bloomberg News.

Washington terus berupaya untuk mencapai kata sepakat. Menurut Trump, Wakil Presiden AS JD Vance sedang dalam perjalanan menuju Pakistan untuk berdialog dengan Iran.

Namun pihak Iran belum bicara apakah akan ambil bagian dalam negosiasi lanjutan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melalui unggahan di Telegram mengungkapkan dirinya telah bicara dengan Wakil Perdana Menteri/Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar seputar gencatan senjata dengan AS, meski tidak memberikan detilnya.

Ketidakpastian di Timur Tengah menjadi sentimen negatif buat harga emas. Sebab, konflik ini membawa ancaman berupa kenaikan harga energi.

Kemarin, harga minyak jenis brent ditutup melonjak 5,64% ke US$ 95,48/barel.

Apabila situasi tidak membaik, maka harga energi masih akan melambung tinggi. Ancaman inflasi akan membuat bank sentral di berbagai negara sulit melonggarkan kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga acuan.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga belum turun.

(aji)

No more pages