Logo Bloomberg Technoz

Harga minyak telah bergejolak dalam beberapa hari terakhir di tengah persepsi yang berubah dengan cepat mengenai status negosiasi dan apakah kapal-kapal dapat melintasi Selat Hormuz — jalur air yang biasanya dilalui oleh hampir seperempat pasokan minyak mentah dunia. 

Konfrontasi di Selat Hormuz mengancam akan memperdalam krisis energi global dan merupakan salah satu dari sejumlah isu yang belum terselesaikan antara Iran dan AS, yang juga mencakup kemampuan nuklir Republik Islam Iran dan invasi Israel ke Lebanon. 

“Para pedagang masih bereaksi terhadap pernyataan-pernyataan penting dari kedua belah pihak dan berharap gangguan pasokan ini hanya bersifat sementara,” kata Michael Tamvakis, profesor ekonomi komoditas dan keuangan di Bayes Business School. 

Pada sesi perdagangan Senin, muncul pernyataan-pernyataan yang saling bertentangan dari Trump mengenai waktu dan kelayakan perundingan damai. Harga minyak terus menguat setelah dia menyatakan bahwa AS akan terus memblokir Selat Hormuz bagi kapal-kapal yang terkait dengan Iran hingga kesepakatan final tercapai.

Sementara itu, arus lalu lintas di Selat Hormuz tetap nyaris terhenti. Harga minyak bisa naik hingga US$110 per barel jika gangguan lalu lintas di perairan tersebut berlanjut selama sebulan lagi, menurut Citigroup.

Harga Minyak Dunia
WTI untuk pengiriman Juni turun 1,4% menjadi US$86,17 per barel pada pukul 06.02 pagi di Singapura. Sedangkan pada kontrak Mei yang kurang aktif, yang akan berakhir pada hari Selasa, turun 1,9% menjadi US$87,89 per barel.

Brent untuk pengiriman Juni naik 5,6% dan ditutup pada US$95,48 per barel pada hari Senin.

(bbn)

No more pages