Namun, Waller memberikan peringatan bahwa pasar kontrak berjangka minyak dan pasar sekuritas secara umum saat ini meremehkan risiko konflik yang berkepanjangan.
"Terkait inflasi, risikonya adalah semakin lama konflik berlarut-larut dan harga energi tetap tinggi, maka semakin besar kemungkinan harga-harga tinggi ini akan merembet ke sektor lain. Hal ini terjadi karena pelaku usaha mulai memasukkan biaya input energi yang mahal ke dalam penetapan harga produk mereka," jelas Waller.
Ia menambahkan, jika kenaikan harga tersebut terjadi di saat pasar tenaga kerja sedang lemah, maka ruang bagi bank sentral untuk memberikan respons kebijakan akan menjadi sangat terbatas.
Dalam kondisi tersebut, Waller akan menimbang risiko inflasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan pelemahan pasar tenaga kerja sebelum menentukan langkah suku bunga selanjutnya. "Itu berarti kami mungkin mempertahankan suku bunga pada kisaran target saat ini jika risiko inflasi lebih berat dibandingkan risiko pada pasar tenaga kerja," tegasnya.
Beberapa pejabat The Fed lainnya telah memberikan sinyal bahwa mereka lebih memilih untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil dalam pertemuan kebijakan pada 28-29 April mendatang di Washington.
Di sisi lain, Iran menyatakan pada Jumat bahwa Selat Hormuz telah dibuka kembali untuk semua kapal. Jika klaim ini benar, jutaan barel minyak mentah dan bahan bakar yang sempat tertahan di Teluk Persia akan segera mengalir ke pasar global. Presiden AS Donald Trump juga mengonfirmasi pembukaan tersebut melalui unggahan media sosial, meskipun blokade Amerika terhadap pengiriman Iran masih berlaku. Kabar ini langsung membuat harga minyak dan gas alam anjlok, sementara bursa saham melonjak.
Di pasar tenaga kerja, Waller mencatat bahwa penurunan angka imigrasi kemungkinan berarti "sangat sedikit atau bahkan tidak ada penciptaan lapangan kerja bersih yang diperlukan untuk menyerap tenaga kerja baru."
"Perkembangan ini belum pernah terjadi dalam sejarah baru-baru ini. Saya yakin ini adalah faktor signifikan dalam memahami prospek ekonomi dan dampaknya terhadap kebijakan moneter," pungkas Waller.
(bbn)
































