Mendekatnya jadwal pemilu diduga menjadi beban politik besar bagi Trump untuk segera menghentikan konflik. Perang telah memicu lonjakan harga bensin, yang justru merusak narasi kampanye Trump bahwa ia mampu menekan biaya bahan bakar. Pemilih juga dikenal cenderung menghukum partai petahana jika terjadi inflasi tinggi.
Meskipun basis pendukung Trump sebagian besar mendukung upaya perang, berbagai jajak pendapat menunjukkan mayoritas warga Amerika justru tidak mendukungnya. Jika Partai Republik kehilangan kendali atas salah satu atau kedua kamar di Kongres, sisa masa jabatan Trump berisiko terjebak dalam pertempuran anggaran dan investigasi politik yang sengit.
Menyadari perlunya mengalihkan pembicaraan nasional, Trump menghabiskan sebagian besar minggu ini untuk mempromosikan manfaat undang-undang pajaknya. Dari menyambut pekerja lepas pembawa makanan McDonald’s ke Ruang Oval, hingga mengunjungi Nevada dan Arizona untuk menonjolkan agenda ekonomi guna menggaet pemilih muda.
“Sejujurnya, itu agak sedikit kampungan. Anda tahu, mereka muncul dengan ide-ide gila ini,” ujar Trump pada Kamis, mengomentari aksi pengiriman pesanan DoorDash-nya ke Gedung Putih. “Memang agak sedikit memalukan, tapi kita melakukannya dan kita menang telak.”
Para penasihat Trump sebelumnya telah merencanakan perjalanan politik domestik pada musim semi, namun rencana itu tertunda akibat perang.
Upaya Besar
Trump berulang kali menyatakan ingin menghentikan ambisi nuklir Iran secara permanen, mengamankan uranium yang diperkaya, mengakhiri dukungan terhadap kelompok proksi teroris, menghancurkan program rudal balistik, hingga mencapai pergantian rezim. Sejauh ini, perang baru membuahkan hasil di beberapa poin tersebut, sementara poin lainnya belum terpenuhi.
Pada Jumat, Trump mengeklaim Iran setuju menangguhkan program nuklirnya tanpa batas waktu—sebuah konsesi baru yang belum diverifikasi Teheran. Dalam negosiasi yang sempat buntu di Islamabad pekan lalu, para pejabat AS menyebut Iran awalnya menolak untuk menghentikan pengayaan uranium.
Situasi semakin rumit karena Trump kemungkinan akan mendapat tekanan besar dari sayap kanan partainya sendiri agar tidak mengakhiri konflik tanpa kemajuan nyata dalam mencegah Iran memiliki bom nuklir. Mencapai target itu akan membutuhkan upaya besar. Sebagai perbandingan, kesepakatan nuklir era Barack Obama yang dulu ditinggalkan Trump membutuhkan waktu lebih dari satu setengah tahun untuk dirundingkan. rump sebelumnya mengkritik keras konsesi finansial dalam kesepakatan tersebut, sehingga pencairan aset, pelonggaran sanksi, atau izin bagi Iran menarik biaya kapal di Hormuz dapat memicu kritik dari kalangan keamanan nasional.
Pada Jumat, Trump kembali menegaskan tidak akan mencairkan dana untuk Iran. Namun garis besar kesepakatan baru yang didukung Trump berpotensi menyerupai kesepakatan yang sebelumnya ia batalkan.
Meski Gedung Putih belum mengumumkan tanggal dan lokasi pembicaraan resmi berikutnya, The Wall Street Journal melaporkan pembicaraan kemungkinan berlangsung Senin di Pakistan. Trump mengatakan kepada Bloomberg bahwa ia belum menentukan delegasi, namun mempertimbangkan Wakil Presiden JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, serta menantunya Jared Kushner. Trump juga mengatakan ia dapat bepergian langsung ke Islamabad untuk menyelesaikan kesepakatan.
“Sebagian besar poin utama sudah difinalisasi. Prosesnya akan berlangsung cukup cepat,” kata Trump.
Trump menggambarkan dirinya sebagai pemimpin transformasional dan menyebut serangan terhadap Iran sebagai puncak konflik yang telah berlangsung puluhan tahun tanpa tindakan dari pendahulunya. Namun sepanjang perang, ia berganti dari retorika keras hingga optimisme terhadap perdamaian. Trump mengatakan kepada ABC News pada Jumat bahwa kesepakatan kini mungkin tercapai karena ia mulai mempercayai Iran.
“Saya pikir mereka sudah cukup merasa lelah,” ujarnya.
“Masih Berjalan di Tempat”
Meski optimistis, Trump mengatakan blokade AS terhadap Selat Hormuz akan tetap berlaku hingga kesepakatan tercapai.
“Saya pikir dia menyadari perlunya mempertahankan tekanan sampai memiliki sesuatu yang konkret,” kata David Hale, yang pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri untuk Urusan Politik pada masa jabatan pertama Trump. Hale menilai tekanan militer, politik, dan ekonomi harus digabungkan agar AS berhasil.
Berbicara kepada wartawan di Arizona pada Jumat, Trump mengatakan negosiasi akan berlanjut sepanjang akhir pekan.
“Ada kesamaan dengan yang pernah kita lakukan sebelumnya,” kata Richard Nephew, mantan pejabat Departemen Luar Negeri yang kini di Columbia University. “Jika ini berarti presiden sekadar mengatakan ‘saya sudah menyelesaikan masalah nuklir, kita selesai,’ maka kita sebenarnya masih berjalan di tempat.”
(bbn)



























