Logo Bloomberg Technoz

Meskipun begitu, Tri menyatakan harga bijh domestik masih lebih rendah dibandingkan dengan harga bijih nikel impor asal Filipina dan Kaledonia Baru. Akan tetapi, dia enggan mengungkapkan hitung-hitungannya.

“Masih lebih, masih lebih rendah,” ujar Tri.

Adapun, Shanghai Metals Market (SMM) memprediksi harga bijih nikel kadar rendah Indonesia bakal melonjak hingga ke level US$48,18/ton basah atau wet metric ton (wmt), usai pemerintah merevisi HPM nikel dengan turut menghitung mineral bawaan dalam bijih nikel.

SMM memprediksi HPM baru untuk bijih nikel berkadar 1,2% akan naik signifikan menjadi US$40,18/wmt atau lebih tinggi 151% dibandingkan dengan HPM lama yang berada di sekitar US$16—US$17 per wmt. Saat ini, SMM mencatat harga rata-rata bijih tersebut sekitar US$30,5/wmt.

Alasannya, untuk bijih nikel kadar rendah mineral ikutan seperti kobalt dan kromium turut dihitung jika mengacu HPM baru. Sementara itu, bijih nikel kadar tinggi, bakal turut mempertimbangkan besi dan kromium.

Selain itu, corrective factor (CF) nikel yang mengakomodir terhadap nilai diskon maupun premium terhadap kualitas bijih juga mengalami kenaikkan.

Perhitungan tersebut dihitung dengan asumsi kadar air sebesar 35%—40%, kadar kobalt sekitar 0,07%, kadar besi 25%, dan kadar kromium 3%.

“Berdasarkan estimasi SMM, harga HPM memiliki ruang kenaikan yang paling jelas. Berdasarkan harga SMM, bijih nikel laterit lokal Indonesia kadar 1,2% [harga serah] rata-rata sebesar US$30,5/wmt, jauh di bawah harga acuan HPM baru sebesar US$40,18/wmt,” sebagaimana tertulis dalam riset SMM, dikutip Rabu (15/4/2026).

“Harga CIF [termasuk biaya asuransi dan pengangkutan] bijih nikel HPAL kadar 1,2% selanjutnya dapat naik menjadi US$48,18/wmt,” tulis SMM.

Sementara  itu, HPM bijih nikel saprolit atau dengan kadar nikel sekitar 1,5% diprediksi bakal berada di level US$57,13/wmt atau masih berada dibawah rata-rata harga bijih saprolit yang tercatat sebesar US$70,7/wmt.

Akan tetapi, SMM menilai dengan adanya kenaikan biaya pajak yang didorong oleh kenaikan harga HPM, maka harga absolut bijih nikel saprolit dapat naik menjadi US$72,47/wmt setelah HPM baru berlaku.

Adapun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi mengubah HPM untuk penjualan komoditas mineral logam, termasuk bijih nikel dan bijih bauksit.

Aturan tersebut tertuang di dalam Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 144/2026 tentang Perubahan atas Kepmen ESDM 268.K/MB.01/MEM.B/2025 tentang Pedoman Penetapan Harga Patokan untuk Penjualan Komoditas Mineral Logam dan Batu Bara. Aturan itu berlaku efektif mulai 15 April 2026.

Dalam aturan terbaru tersebut, formula HPM bijih nikel tidak lagi hanya mengacu pada kadar nikel, melainkan turut mempertimbangkan kandungan mineral ikutan seperti besi (Fe), kobalt (Co), dan krom (Cr), serta faktor kadar air atau moisture content.

Dijelaskan bahwa kontribusi unsur tambahan hanya dihitung jika memenuhi ambang batas tertentu, seperti kadar besi minimal 35% dan kobalt minimal 0,05%.

Sementara itu, faktor koreksi atau CF juga ditetapkan berbeda untuk masing-masing komoditas, yakni 30% untuk nikel, besi, dan kobalt, serta 10% untuk krom.

Selain itu, penggunaan satuan juga berubah dari sebelumnya US$/dmt menjadi US$/wmt.

Sebelumnya, dalam Kepmen ESDM No. 268/2025, perhitungan HPM bijih nikel hanya didasarkan pada kadar nikel (%Ni), corrective factor (CF), dan harga mineral acuan (HMA) nikel.

Sekadar catatan, Badan Pusat Statistik (BPS) mendata impor bijih dan konsentrat nikel dari Filipina mencapai 15,84 juta sepanjang Januari—Desember 2025.

Pada periode tersebut, impor nikel dari Filipina tercatat sebesar 15,3 juta ton. Kemudian, impor bijih nikel dari Kepulauan Solomon tercatat sebesar 288.440 ton. Selanjutnya, impor bijih nikel dari China tercatat sebesar 218.007 ton.

(azr/wdh)

No more pages