Logo Bloomberg Technoz

Alasan ESDM Naikkan HPM: Nikel RI Terlalu Murah dari Bijih Impor

Azura Yumna Ramadani Purnama
16 April 2026 09:20

Bijih nikel dibongkar dari kapal pengangkut curah Sansho./Bloomberg-Carla Gottgens
Bijih nikel dibongkar dari kapal pengangkut curah Sansho./Bloomberg-Carla Gottgens

Bloomberg Technoz, Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan revisi formula Harga Patokan Mineral (HPM) dilakukan sebab harga bijih nikel Indonesia masih tidak mencerminkan nilai fundamentalnya.

Terlebih, harga bijih domestik dinilai masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan bijih nikel impor asal Filipina dan Kaledonia Baru.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno tidak menampik penyesuaian HPM nikel membuat harga bijih domestik terkerek, bahkan mencapai di atas 100%.


Dia menyatakan, dalam formula HPM sebelumnya, terdapat komponen premium; yakni tambahan harga di atas harga acuan yang muncul dalam transaksi pasar, tetapi belum tecermin dalam perhitungan HPM.

“Selama ini kita kan bandingkan dengan Filipina sama New Caledonia. Sebetulnya FOB-nya [freight on board] dia berapa, sampai di sini berapa. Memang harga bijih yang di kita terlalu rendah yang kemarin. Bisa dicek ke asosiasi juga bahwa kemarin itu ada premiumnya. Nah, premium itu kan tidak ter-capture di dalam harga HPM pada masa itu. Nah kemudian kita lakukan koreksi,” kata Tri ditemui di Kompleks DPR RI, Rabu (15/4/2026).

Produksi Tambang Nikel per Negara (11M25) (Bloomberg Intelligence)