Logo Bloomberg Technoz

Sebaliknya, hanya dolar Hong Kong yang terlihat stabil dengan perubahan terbatas 0,01% saja. 

Mata uang di kawasan Asia berbalik melemah pagi ini (9/4/2026), setelah sempat menguat kemarin. (Bloomberg)

Kekhawatiran pasar masih terjadi, bahwa pemulihan pasokan energi mungkin tidak langsung terjadi setelah gencatan senjata disepakati dan dibukanya Selat Hormuz. 

Hal ini telah kembali mengerek harga minyak mentah 2,55% ke posisi US$97,17 per barel setelah turun tajam kemarin. 

Kenaikan harga minyak mentah ini terjadi lantaran Selat Hormuz sebagian besar masih terblokir. Serta adanya serangan Israel ke Lebanon ikut mengancam gagalnya gencatan senjata antara AS dan Iran. 

Dari dalam negeri, belum banyak katalis yang bisa menopang laju rupiah hari ini. Cadangan devisa yang tercatat menurun selama tiga beruntun ikut menambah tekanan bagi pergerakan rupiah. 

Di sisi lain, kinerja ekspor, meski mencatatkan surplus lebih tinggi pada Februari US$1,28 miliar berada di bawah konsensus pasar, US$1,58 miliar. 

Pertumbuhan ekspor juga tercatat sedikit melambat 1,01% secara tahunan, disebabkan oleh angka ekspor batu bara yang terkontraksi 8,31% secara bulanan dan 15,65% secara tahunan menjadi US$2,25 miliar. 

Analisis Teknikal

Analisis Teknikal Rupiah Kamis 9 April 2026 (Sumber: Bloomberg)

Secara teknikal, rupiah masih berisiko melemah hari ini. Target support terdekat menuju level Rp17.050/US$, dengan support kedua tertahan di level Rp17.100/US$.

Selama nantinya rupiah bertengger di atas Rp17.000/US$, maka masih ada kemungkinan untuk lanjut melemah hingga mencapai Rp17.200/US$.

Sementara itu, trendline sebelumnya di perspektif harian (daily time frame) menjadi resistance psikologis potensial di level Rp16.990/US$. Kemudian, target penguatan lanjutan adalah level Rp16.900/US$.

(riset/aji)

No more pages