Dia juga menyoroti kemungkinan adanya kenaikan harga logistik dan asurasi pengiriman yang melonjak tajam.
Moshe menyebut di Selat Hormuz, Iran disebut telah menerapkan tarif hingga sekitar US$2,6 juta/kapal. Tak ayal, kondisi serupa berpotensi terjadi di Bab el-Mandeb jika konflik di Teluk Persia makin meluas.
"Terus terang saja, kalau Selat Bab el-Mandeb ini akhirnya dikontrol oleh Yaman sama Houthi ini [minyak dunia] bisa sampai US$200/barel. Transaksi dari Eropa, perdagangan Eropa ke Asia itu, semua lewat situ," tegasnya.
Mengutip dari National Geographic Selat Bab el-Mandeb sendiri merupakan selat dengan lebar 20 mil dan panjang 70 mil yang terletak di antara Tanduk Afrika dan ujung selatan Semenanjung Arab.
Selat ini membentuk pintu masuk selatan ke Laut Merah dari Teluk Aden, dan Samudra Hindia di seberangnya. Negara Eritrea dan Djibouti berbatasan di sebelah barat, sedangkan Yaman terletak di tepi timurnya.
Pada akhir Maret, Iran disebut-sebut mendorong Houthi untuk bersiap melancarkan kembali kampanye melawan pelayaran di Laut Merah, bergantung pada peningkatan eskalasi lebih lanjut oleh Amerika Serikat (AS) dalam perangnya melawan Republik Islam itu, menurut para pejabat Eropa yang mengetahui masalah tersebut.
Para pemimpin Houthi yang berbasis di Yaman, sebuah kelompok militan yang didukung oleh Iran, sedang mempertimbangkan opsi untuk tindakan yang lebih agresif setelah meluncurkan rudal balistik ke Israel, kata sumber-sumber tersebut, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena membahas masalah sensitif.
Terdapat perbedaan pendapat di dalam kepemimpinan Houthi tentang seberapa agresif mereka harus bertindak dan itu sebagian menjadi alasan mengapa kelompok tersebut baru memasuki konflik sebulan setelah dimulai, kata sumber-sumber tersebut.
Dalam pengumuman pada Sabtu (28/3/2026), Houthi mengatakan mereka akan melanjutkan operasi militer sampai serangan AS-Israel terhadap Iran dan kelompok-kelompok proksinya, termasuk Hizbullah di Lebanon, berhenti.
Mereka secara khusus tidak mengatakan bahwa mereka akan menargetkan kapal tanker atau kapal lain yang melintasi Laut Merah.
Para pejabat AS dan Arab Saudi telah mengatakan kepada sekutu Eropa bahwa mereka percaya kelompok tersebut ingin menghindari eskalasi lebih lanjut dan serangan terhadap aset Amerika dan Saudi untuk saat ini, kata sumber tersebut.
Juru bicara Pemerintah Saudi tidak segera menanggapi permintaan komentar. Juru bicara Gedung Putih juga tidak segera berkomentar mengenai masalah ini.
Namun, makin lama perang AS-Israel melawan Iran berlangsung, makin besar kemungkinan Houthi akan menargetkan tanker-tanker di Laut Merah, tambah sumber tersebut. Mereka mengatakan ada kemungkinan kelompok pejuang tersebut menunda keputusan sebagai cara untuk mempertahankan pengaruh terhadap AS.
Salah satu pejabat mengatakan upaya Amerika untuk merebut Pulau Kharg — tempat Iran mengekspor sebagian besar minyaknya — dapat mendorong Houthi untuk memperluas serangan mereka.
Setiap kampanye oleh Houthi terhadap kapal-kapal di Laut Merah bagian selatan dan dekat Selat Bab el-Mandeb akan makin mengacaukan pasar energi global.
Jalur air tersebut menjadi sangat penting setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz sejak konflik dimulai pada akhir Februari.
Harga minyak naik untuk hari ketiga berturut-turut setelah Presiden AS Donald Trump meningkatkan ancaman untuk menghancurkan infrastruktur utama Iran jika persyaratannya tidak dipenuhi sebelum batas waktu hari Selasa (7/4/2026).
Brent diperdagangkan di atas US$111/barel setelah naik 0,7% pada sesi sebelumnya, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$116 setelah ditutup pada level tertinggi sejak Juni 2022.
Trump mengatakan pada Senin (6/4/2026) bahwa pembicaraan dengan Iran "berjalan dengan baik," meskipun dia menyebut pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai "prioritas yang sangat besar."
Dengan Hormuz yang diblokir, Arab Saudi telah meningkatkan ekspor minyak mentah dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Bagi kapal-kapal yang berangkat dari sana ke Asia — pembeli minyak Saudi terbesar — Selat Bab el-Mandeb adalah rute tercepat.
Ketersediaan jalur alternatif tersebut telah membantu membatasi kenaikan harga minyak.
Kelompok Houthi hampir sepenuhnya menutup jalur pelayaran di Laut Merah bagian selatan dan Teluk Aden bagi perusahaan pelayaran Barat sejak akhir tahun 2023, ketika perang di Gaza antara Israel dan Hamas meletus.
Kelompok Houthi mengatakan mereka bertindak dalam solidaritas dengan kelompok Palestina tersebut dan serangan mereka berlanjut hingga gencatan senjata di Gaza pada Oktober.
Namun kini, menurut sumber-sumber tersebut, kelompok Houthi menghadapi keputusan-keputusan kompleks mengenai keterlibatan mereka dalam perang melawan Iran.
Dari perspektif Teheran, ancaman dari kelompok militan proksi mereka terhadap jalur pelayaran merupakan kartu tawar-menawar lain yang dapat digunakan dalam negosiasi apa pun dengan AS, yang makin menunjukkan kemampuan mereka untuk mengganggu perekonomian global.
Meskipun Iran adalah pendukung terpenting Houthi, mereka tidak secara otomatis bertindak atas perintah Teheran.
Kelompok ini memiliki perhitungan strategisnya sendiri, dan mereka akan berhati-hati untuk tidak memicu pembalasan dari AS atau Israel sementara mereka masih pulih dari kampanye pengeboman sebelumnya.
AS menargetkan Houthi sejak Januari 2025, menimbulkan kerusakan yang signifikan. Namun, itu adalah operasi yang mahal bagi Washington dan Presiden AS Donald Trump menyetujui gencatan senjata dengan mereka pada Mei tahun itu.
Bahkan ketika mereka menghadapi tekanan dari Iran, Houthi perlu membenarkan keterlibatan mereka dalam perang pada saat ekonomi di daerah yang mereka kuasai berada dalam kondisi yang sangat buruk. Sekitar setengah dari penduduk Yaman menderita kelaparan akut, menurut PBB.
Sebuah faksi ekstrem ingin melakukan serangan yang lebih luas sementara tokoh-tokoh lain yang lebih moderat menolak strategi tersebut.
(wdh)




























