Logo Bloomberg Technoz

Pemerintah dinilai juga perlu mempercepat efisiensi konsumsi energi dan pengaturan distribusi agar subsidi tidak bocor.

"Pilihan ini lebih sehat bagi fiskal dan lebih adil bagi masyarakat. Jika harga mendekati US$200/barel dan seluruh harga tetap dibekukan, beban fiskal akan melonjak terlalu cepat, ruang defisit akan menipis, dan kredibilitas APBN bisa ikut tertekan," tegasnya.

Sebagai catatan, minyak Brent untuk pengiriman Juni naik 1,2% menjadi US$111,07/barel pada pukul 10:33 pagi ini di Singapura. Minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik 2,2% menjadi US$114,88/barel.

Harga minyak naik untuk hari ketiga berturut-turut setelah Presiden AS Donald Trump meningkatkan ancaman untuk menghancurkan infrastruktur penting Iran jika persyaratannya tidak dipenuhi sebelum batas waktu Selasa atau hari ini.

Pergerakan harga minyak WTI hingga 7 April 2026./dok. Bloomberg

Intervensi Terarah

Adapun, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menekankan kemampuan pemerintah juga akan sangat terbatas jika harga minyak melapaui asumsi hingga mendekati US$200/barel.

Terlebih, untuk mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yaitu Jenis BBM Tertentu (JBT) Solar dan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite.

Walhasil, di tengah tekanan kondisi tersebut, dia berpandang strategi yang lebih rasional untuk dilakukan pemerintah yakni menggeser pendekatan dari pendekatan subsidi universal menuju intervensi yang lebih terarah dan adaptif.

"Pemerintah perlu memprioritaskan perlindungan bagi kelompok rentan melalui subsidi terbatas dan bantuan langsung, sekaligus memperketat distribusi BBM bersubsidi untuk meminimalkan kebocoran," ujar Rizal.

"Di sisi lain, langkah efisiensi energi, pengendalian konsumsi, serta refocusing belanja menjadi krusial untuk menjaga stabilitas fiskal," tuturnya.

Dengan demikian, Rizal meyakini bahwa kebijakan tersebut nantinya tidak lagi semata-mata menahan harga, tetapi mengelola dampak secara lebih terukur dan berkelanjutan tidak hanya terhadap kinerja ekonomi tetapi juga kredibilitas fiskal.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan BBM bersubsidi tidak akan naik hingga akhir 2026 dengan rerata harga minyak dunia mencapai US$100/barel di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah.

"Kami siap tidak menaikkan harga BBM subsidi sampai akhir tahun dengan asumsi rata-rata harga minyak dunia US$100/barel sudah dihitung. Kalau nonsubsidi bukan hitungan kami. [BBM] subsidi aman enggak usah takut, kami sudah hitung,” tegas Purbaya dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, Senin (6/4/2026).

Dia juga menuturkan Kemenkeu telah mengkalkulasi untuk harga minyak dunia ketika mencapai US$80/barel, US$90/barel, serta US$100/barel bahkan hingga mitigasi harga minyak dunia ke APBN.

“Jadi langkah langkah yang disebutkan oleh Presiden [Prabowo] dan anggota kabinet Merah Putih di pengumuman sebelumnya itu sudah diperhitungkan asumsi harga minyak dunia rata-rata US$100 sepanjang 2026. Dan exercise tertentu anggaran bisa ditekan [defisit] masih di 2,92% terhadap PDB,” jelas Purbaya.

Bagaimanapun, Purbaya menegaskan pemerintah masih memiliki SAL mencapai Rp420 triliun yang digunakan sebagai bantalan ketika diperlukan ketika harga minyak terus mendaki bahkan tidak terkendali.

Di sisi lain, Purbaya menyebut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia juga menjanjikan pendapatan lebih yang berasal dari sektor batu bara hingga mineral lainnya ketika harga minyak dunia terus melambung.

“Nanti Menteri ESDM menjanjikan pendapatan yang lebih dari kenaikan harga minyak terhadap batu bara di pasar dunia. Jadi masyarakat enggak usah khawatir kita sudah hitung dengan exercise seperti itu. Kalau kepepet masih ada [SAL],  jadi pertahanan kita berlapis-lapis,” ungkap dia.

Adapun, konsultan pasar energi FGE NexantECA memprediksi harga minyak bisa melonjak hingga US$150 atau US$200 per barel jika penutupan Selat Hormuz terus berlanjut selama enam hingga delapan pekan ke depan akibat perang Iran.

"Setiap minggu, 100 juta barel minyak tidak dapat melewati selat tersebut, dan setiap bulan, 400 juta barel tidak dapat melewati jalur ini," kata Ketua Emeritus Fereidun Fesharaki kepada Bloomberg Television pada Selasa (31/3/2025).

"Jadi, dalam jangka waktu tertentu, kerugian yang dialami pasar akan sangat besar."

Senada, Macquarie Group Ltd. menyebut harga minyak mungkin mencapai rekor US$200/barel jika perang Iran berlanjut hingga Juni 2026, dengan Selat Hormuz tetap tertutup.

Konflik yang berlanjut hingga kuartal II-2026 akan menghasilkan harga riil yang sangat tinggi secara historis, kata para analis termasuk Vikas Dwivedi dalam sebuah catatan, yang menguraikan skenario dengan peluang 40%.

Pandangan alternatif, dengan probabilitas 60%, menunjukkan perang mungkin akan berakhir pada akhir bulan ini, kata mereka.

“Jika selat tersebut tetap tertutup untuk jangka waktu yang lama, harga perlu naik cukup tinggi untuk menghancurkan permintaan minyak global dalam jumlah yang sangat besar secara historis,” kata para analis dalam laporan pada 27 Maret.

“Waktu pembukaan kembali selat, dan kerusakan fisik pada infrastruktur energi, adalah penentu utama dampak jangka panjang pada komoditas.”

(prc/wdh)

No more pages