Namun demikian, dia tetap mengingatkan asumsi yang dipegang pemerintah tersebut hanya akan dapat dipertahankan jika gangguan pasokan energi global tidak makin parah terjadi.
"Dengan kondisi sekarang, US$100/barel layak dibaca sebagai asumsi stres yang masih kredibel, tetapi jelas tidak longgar karena APBN per akhir Maret sudah mencatat defisit 0,93% PDB, belanja tumbuh 31,4%, dan pemerintah juga sudah menghitung tambahan subsidi energi sekitar Rp90—Rp100 triliun bila harga domestik tetap ditahan," jelasnya.
Masih Realistis
Senada, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M Rizal Taufikurahman menyampaikan asumsi harga minyak di kisaran US$100/barel untuk menahan BBM subsidi masih realistis.
Dengan catatan, langkah tersebut kata dia lebih tepat diposisikan sebagai skenario stres, alih-alih baseline fiskal.
"Karena asumsi resmi APBN berada di kisaran yang jauh lebih rendah, sehingga level US$100 sudah mencerminkan tekanan eksternal yang signifikan," jelas Rizal.
Di sisi lain, dalam konteks geopolitik saat ini—terutama risiko gangguan pasokan global — harga minyak masih mungkin bergejolak lebih parah dalam jangka pendek.
Namun, secara ekonomi, mempertahankan harga BBM bersubsidi pada level saat ini berarti pemerintah harus menyerap beban tambahan yang tidak kecil.
"Sehingga kebijakan tersebut bersifat defensif, mahal, dan hanya layak untuk horizon waktu terbatas," ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya memastika harga BBM tidak akan naik hingga akhir 2026 dengan rerata harga minyak dunia mencapai US$100/barel di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah.
Purbaya menegaskan pemerintah telah berhitung secara terperinci bahkan hingga kemungkinan terburuk yang akan terjadi dalam konflik geopolitik terhadap perekonomian RI.
“Kami siap tidak menaikkan harga BBM subsidi sampai akhir tahun dengan asumsi rata-rata harga minyak dunia US$100/barel sudah dihitung. Kalau nonsubsidi bukan hitungan kami. [BBM] subsidi aman enggak usah takut, kami sudah hitung,” tegas Purbaya dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, Senin (6/4/2026).
Bendahara Negara menjelaskan Kementerian Keuangan telah mengkalkulasi untuk harga minyak dunia ketika mencapai US$80/barel, US$90/barel, serta US$100/barel bahkan hingga mitigasi harga minyak dunia ke APBN.
“Jadi langkah langkah yang disebutkan oleh Presiden [Prabowo] dan anggota kabinet Merah Putih di pengumuman sebelumnya itu sudah diperhitungkan asumsi harga minyak dunia rata-rata US$100 sepanjang 2026. Dan exercise tertentu anggaran bisa ditekan [defisit] masih di 2,92% terhadap PDB,” jelas Purbaya.
Bagaimanapun, Purbaya menegaskan pemerintah masih memiliki Saldo Anggara Lebih (SAL) mencapai Rp420 triliun yang digunakan sebagai bantalan ketika diperlukan ketika harga minyak terus mendaki bahkan tidak terkendali.
Di sisi lain, Purbaya menyebut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia juga menjanjikan pendapatan lebih yang berasal dari sektor batu bara hingga mineral lainnya ketika harga minyak dunia terus melambung.
“Nanti Menteri ESDM menjanjikan pendapatan yang lebih dari kenaikan harga minyak terhadap batu bara di pasar dunia. Jadi masyarakat enggak usah khawatir kita sudah hitung dengan exercise seperti itu. Kalau kepepet masih ada [SAL], jadi pertahanan kita berlapis-lapis,” ungkap dia.
Sebagai catatan saja, per pagi ini harga minyak Brent naik di atas US$109,77/barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mendekati US$112,65/barel.
(prc/wdh)






























