Logo Bloomberg Technoz

Inflasi Global Memanas, The Fed Hadapi Tekanan Baru Akibat Perang

Redaksi
24 May 2026 13:30

Trader di bursa New York mengamati keterangan pers Gubernur The Fed Jerome Powell. dok: Michael Nagle/Bloomberg
Trader di bursa New York mengamati keterangan pers Gubernur The Fed Jerome Powell. dok: Michael Nagle/Bloomberg

Bloomberg Technoz, Jakarta - Lonjakan harga energi akibat konflik Iran mulai memunculkan kekhawatiran baru terhadap arah inflasi global. Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu negara yang paling terdampak, terutama karena kenaikan harga minyak dan bahan bakar kini mulai merembet ke berbagai sektor ekonomi.

Bloomberg melaporkan indikator inflasi favorit Federal Reserve, yakni indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (personal consumption expenditures/PCE), diperkirakan naik menjadi 3,8% secara tahunan pada April 2026, dari sebelumnya 3,5% pada Maret. 

Jika proyeksi itu terealisasi, inflasi AS akan meningkat satu poin persentase hanya dalam dua bulan terakhir, ini menjadi inflasi tercepat sejak akhir 2021. Kenaikan tersebut menunjukkan tekanan harga tidak lagi terbatas pada sektor energi semata.


Bahkan inflasi inti, yang mengecualikan komponen energi dan pangan, diperkirakan ikut meningkat ke level tertinggi sejak akhir 2023. Bloomberg memperkirakan inflasi inti AS akan berada di level 3,3% naik dari posisi sebelumnya 3,2%. 

Kondisi ini menandakan dampak perang mulai menjalar ke biaya produksi, distribusi, hingga konsumsi rumah tangga.