Logo Bloomberg Technoz

Di sisi lain, Iran juga memperingatkan jika diserang, mereka akan membalas dengan menyerang infrastruktur energi di Teluk Persia. Jika hal ini terjadi, pasokan minyak dunia bisa semakin terganggu, sehingga harga minyak semakin melambung tinggi dan berampak pada ekonomi global.

Sebagai catatan, perang saat ini telah memasuki minggu keenam telah mengguncang pasar minyak dan memicu guncangan pasokan yang signifikan.

“Jika Trump benar-benar masuk ke mode ‘penghancuran total’ dan Iran menindaklanjuti dengan serangan balasan yang ‘lebih menghancurkan’ dan ‘lebih luas’, kami memperkirakan harga akan bergerak di atas US$110 menuju US$120,” kata Robert Rennie, kepala riset komoditas di Westpac Banking Corp, seperti dikutip Bloomberg News.

“Namun, jika Trump kembali memperpanjang tenggat, maka harga kemungkinan tetap berada di kisaran US$95–US$110 untuk saat ini," kata Robert Rennie melanjutkan. 

Dari dalam negeri, sentimen terkait defisit fiskal belum sepenuhnya reda. Kemarin, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sampai Maret 2026 tercatat mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). 

Nilai defisit ini tercatat lebih besar dibandingkan realisasi pada periode yang sama tahun lalu yang Rp99,8 triliun, atau setara 0,41% terhadap PDB. Adapun pemerintah menetapkan batas atas defisit APBN 2026 sebesar 2,68% terhadap PDB.

(dsp/aji)

No more pages