Menanggapi hal tersebut, Iran memperingatkan akan membalas setiap serangan terhadap target sipil dengan meningkatkan serangan mereka sendiri ke infrastruktur energi di Teluk. Langkah ini dikhawatirkan akan memperburuk kelangkaan bahan bakar global dan memperparah kerusakan ekonomi dunia. Perang yang kini memasuki minggu keenam tersebut telah mengacaukan pasar mentah dan memicu guncangan pasokan yang signifikan.
"Trump tidak menarik kembali pernyataan-pernyataan sebelumnya," ujar Carl Larry, analis minyak dan gas di Enverus. "Saya rasa kita sedang menuju akhir dari situasi ini, namun hasilnya mungkin bukan yang terbaik jika puncaknya adalah aksi militer."
Seiring berlanjutnya perang, kekhawatiran akan pasokan jangka pendek mulai terlihat jelas di pasar. Selisih harga WTI untuk kontrak terdekat (prompt spread) sempat diperdagangkan mendekati US$15,50 per barel pada hari Senin, mendekati rekor premi tertinggi. Pelebaran selisih ini dipicu oleh ekspektasi ketatnya pasokan di AS karena pembeli luar negeri berbondong-bondong memborong minyak mentah Amerika.
Harga:
- WTI untuk pengiriman Mei naik 0,2% menjadi US$112,65 per barel pada pukul 06.07 pagi di Singapura.
- Brent untuk pengiriman Juni ditutup naik 0,7% menjadi US$109,77 per barel pada Senin.
(bbn)
























