Selain itu, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PTBA Una Lindasari menambahkan kebijakan dividen nanti juga bakal mempertimbangkan posisi arus kas tahun ini.
Terlebih, Una menggarisbawahi, PTBA bakal menjalankan sejumlah proyek strategis pada 2026. Misalkan, dia mencontohkan, proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara di smelter Inalum, Mempawah.
“Kami juga juga melihat kondisi cash flow yang tersedia untuk tahun ini, ada beberapa proyek yang kita mulai terutama power plant yang kita bangun di Mempawah,” kata Una.
“Kita harus balancing antara kebutuhan investasi dengan dividen,” tuturnya.
Belakangan, PTBA tengah mencari mitra teknologi dan investor potensial untuk membangun PLTU batu bara tersebut.
Rencananya, PLTU dengan kapasitas setrum 1,25 gigawatt (GW) itu akan menopang smelter aluminium PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) berkapasitas 600.000 ton per tahun.
Laba Susut
Sebelumnya, PTBA mencetak laba bersih sebesar Rp2,93 triliun sepanjang 2025. Posisi laba itu terkoreksi 42,6% dibandingkan dengan torehan tahun sebelumnya sebesar Rp5,1 triliun.
Adapun, emiten tambang pelat merah itu membagikan dividen Rp3,82 triliun pada tahun buku 2024. Adapun, nominal dividen itu mengambil porsi 75% dari laba bersih saat itu.
Di sisi lain, PTBA membukukan EBITDA sebesar Rp6,08 triliun dengan margin di level 14% sepanjang tahun lalu.
Meskipun secara operasional kinerja meningkat, namun harga jual rata-rata (ASP) tercatat menurun 6% secara tahunan seiring dengan harga batu bara yang terus menurun di mana Newcastle Coal Index tercatat menurun 22% dan Indonesia Coal Index-3 turun hingga 16%.
PTBA membukukan pendapatan sebesar Rp42,65 triliun pada tahun lalu, dengan penjualan meningkat 6% secara tahunan. Penjualan domestik tercatat 54%, sisanya diisi dengan pasar ekspor.
Di sisi lain, beban pokok pendapatan PTBA mencapai Rp36,39 triliun, naik 5% secara tahunan.
(naw)




























