Logo Bloomberg Technoz

Thomas melanjutkan, berdasarkan data dari Space-Track dan hasil analisis orbit, sisa roket tersebut meluncur dari arah India menuju Samudera Hindia di sebelah barat Sumatra.

Pada sekitar pukul 19.56 WIB, ketinggiannya turun hingga di bawah 120 kilometer, memasuki lapisan atmosfer yang lebih padat. Pada ketinggian tersebut, hambatan udara meningkat drastis dan menyebabkan objek kehilangan kecepatan serta ketinggian dengan cepat.

Proses ini memicu gesekan intens yang menghasilkan panas tinggi, sehingga benda tersebut terbakar dan terfragmentasi menjadi beberapa bagian sebelum akhirnya jatuh di permukaan bumi. Kemungkinan besar pecahannya jatuh tersebar di hutan atau di laut.

Fenomena jatuhnya sampah antariksa ini sebenarnya bukan hal yang langka secara global. Namun, kejadian yang melintas dan dapat disaksikan langsung di wilayah Indonesia tergolong jarang.

Peristiwa serupa terakhir kali terjadi pada tahun 2022, ketika objek serupa terlihat di Lampung dan jatuh di wilayah Sanggau, Kalimantan Barat.

Fenomena ini pada umumnya tidak membahayakan masyarakat. Sebab, sampah antariksa akan habis terbakar di atmosfer sebelum mencapai permukaan Bumi. Risiko hanya muncul jika ada bagian yang tidak terbakar sempurna dan jatuh di area permukiman, tetapi hingga saat ini  belum pernah terjadi di mana pun di dunia.

Dirinya menegaskan bahwa penyebab utama sampah antariksa jatuh ke Bumi adalah adanya hambatan udara pada orbit rendah. Bekas roket atau satelit yang sudah tidak aktif akan mengalami perlambatan akibat interaksi dengan atmosfer. Sehingga ketinggiannya terus menurun hingga akhirnya masuk ke lapisan atmosfer padat dan terbakar.

(mef/wep)

No more pages