Logo Bloomberg Technoz

BRIN Ungkap Potensi Perbedaan 1 Ramadan

Farid Nurhakim
15 February 2026 19:30

Petugas memantau hilal atau rukyatulhilal di Kanwil Kemenag Provinsi DKI Jakarta. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Petugas memantau hilal atau rukyatulhilal di Kanwil Kemenag Provinsi DKI Jakarta. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djalaluddin memprediksi penentuan 1 Ramadan 1447 Hijriah berpotensi memiliki perbedaan. Hal ini dikarenakan terdapat acuan kriteria hilal yang berbeda untuk menentukan awal bulan puasa tersebut.

Thomas memperkirakan penentuan 1 Ramadan 1447 H terbagi menjadi dua yaitu pada Rabu (18/2/2026) dan Kamis (19/2/2026). Dia pun menjelaskan kriteria Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) menetapkan tinggi hilal minimal 3 derajat dengan sudut elongasi minimal 6,4 derajat.

Namun, ujar Thomas, posisi hilal ketika waktu magrib tanggal 17 Februari 2026, belum memenuhi kriteria MABIMS yang digunakan pemerintah dan mayoritas organisasi masyarakat (ormas) Islam. Dia pun memperkirakan awal Ramadan 2026 di Indonesia jatuh pada 19 Februari 2026. 


“Fakta astronomi, pada saat magrib 17 Februari 2026, di wilayah Asia Tenggara posisi hilal belum memenuhi kriteria MABIMS, kriteria yang digunakan oleh pemerintah dan sebagian besar ormas Islam,” ungkap Thomas ketika dihubungi Bloomberg Technoz, Minggu (15/2/2026).

“Ini di wilayah Amerika, sehingga di wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia belum memenuhi kriteria. Sehingga 1 Ramadhan 1447 [Hijriah] jatuh pada tanggal 19 Februari 2026,” sambung dia.