Logo Bloomberg Technoz

Indeks Manufaktur Susut, Kemenkeu Janji Antisipasi Risiko Global

Redaksi
02 April 2026 14:45

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu. (Bloomberg Technoz/ Sultan Ibnu Affan)
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu. (Bloomberg Technoz/ Sultan Ibnu Affan)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menegaskan fundamental sektor manufaktur nasional masih berdaya tahan. Ke depan, pemerintah terus mengantisipasi risiko dampak rambatan kondisi geopolitik global terhadap ekonomi Indonesia.

Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, Febrio Kacaribu, menanggapi Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Maret 2026 yang merosot menjadi 50,1, dari level indeks sebelumnya yang di level 53,8 Februari 2026.

Indeks Indonesia tercatat lebih rendah dibanding level PMI manufaktur negara lain, seperti Vietnam (51,2), Filipina (51,3), Thailand (54,1), India (53,8), dan Amerika Serikat (52,4), serta perbaikan di kawasan Eropa dengan Eurozone yang kembali ekspansif (51,4).


Menurut Febrio, indeks manufaktur bulan ini dipengaruhi oleh penurunan permintaan baru dan ekspor, serta meningkatnya biaya input seiring kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok global, termasuk keterlambatan pengiriman bahan baku yang menahan aktivitas produksi. 

Kendati demikian, secara fundamental, industri manufaktur domestik tetap terjaga, didukung permintaan domestik yang stabil serta optimisme pelaku usaha terhadap prospek ke depan.