Kontrak minyak menguat tipis setelah pernyataan Trump pada perdagangan awal. Sementara itu, kontrak berjangka saham AS mempertahankan kenaikan setelah reli sebelumnya pada Selasa.
Trump kembali mengungkapkan kekesalannya terhadap sekutu AS yang dianggap tidak cukup membantu membuka kembali Selat Hormuz—jalur air krusial yang lumpuh sejak konflik pecah. Pernyataan tersebut muncul ketika Trump disebut marah kepada anggota North Atlantic Treaty Organization (NATO) dan sekutu lainnya, menurut sejumlah sumber yang mengetahui pemikirannya. Dengan perang yang terus berlarut, Trump menilai beberapa mitra tidak cukup berupaya untuk mengakhiri konflik secara tegas.
"Apa yang terjadi dengan selat itu? Kami tidak akan ikut campur lagi. Negara-negara seperti China akan datang dengan kapal-kapal besar mereka, mereka akan mengisi bahan bakar, lalu pergi mengurus diri mereka sendiri," cetus Trump di Ruang Oval. "Tidak ada alasan bagi kami untuk melakukannya bagi mereka."
Trump tetap menunjukkan sikap plin-plan. Di satu sisi ia mengklaim kemajuan diplomasi, namun di sisi lain ia mengancam akan menargetkan jembatan-jembatan di Iran guna memaksa Teheran ke meja perundingan.
Menurut sumber yang mengetahui diskusi internal, Trump menyadari bahwa situasi saat ini tidak dapat dipertahankan. Tim Trump juga menyebut bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz—yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak laut dunia—mungkin bukan syarat mutlak untuk mengakhiri perang.
Keluar dari konflik dapat meredakan kekhawatiran investor yang ingin gangguan akibat perang segera mereda. Namun, membiarkan status selat tetap tidak jelas—terutama dengan tuntutan Teheran atas kedaulatan wilayah tersebut sebagai bagian dari kesepakatan—berpotensi mempertahankan volatilitas ekonomi global. Harga minyak Brent melonjak sekitar 60% sepanjang Maret sejak perang dimulai, sementara harga bensin di AS melampaui 4 dolar per galon untuk pertama kalinya sejak 2022.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perang yang dimulai Trump bersama Israel tidak lagi sepenuhnya berada dalam kendalinya. Hal ini juga menimbulkan risiko politik bagi presiden yang sebelumnya berkampanye untuk tidak memulai perang baru, sementara Partai Republik menghadapi kemungkinan kehilangan kendali Kongres dalam pemilu sela November mendatang.
Meski demikian, sumber tersebut mengatakan dampak ekonomi dari perang menjadi perhatian utama Gedung Putih, karena para pejabat semakin khawatir terhadap dampaknya bagi kandidat Partai Republik yang akan kembali mencalonkan diri.
“Presiden Trump sejak awal telah menjelaskan bahwa akan ada gangguan jangka pendek akibat Operation Epic Fury. Namun, arah ekonomi jangka panjang Amerika tetap kuat dengan fokus pemerintahan pada pemotongan pajak, deregulasi, dan peningkatan pasokan energi,” kata juru bicara Gedung Putih, Kush Desai, dalam pernyataan. “Setelah tujuan Operation Epic Fury tercapai, warga Amerika dapat yakin bahwa agenda presiden akan mendorong pertumbuhan lapangan kerja, upah, dan ekonomi seperti pada pemerintahan pertama Trump.”
Para kritikus menilai AS meremehkan besarnya gangguan terhadap arus energi global akibat konflik. Namun, Trump dan timnya mencoba memisahkan ancaman Iran dan kelompok proksinya terhadap AS dari dampak perang terhadap pelayaran. Dengan ketergantungan AS terhadap minyak Timur Tengah yang lebih kecil dibanding Asia, Trump juga mendorong negara lain yang lebih bergantung pada energi kawasan tersebut untuk turut menyelesaikan masalah.
Trump pada Selasa (31/3) mengatakan AS telah secara drastis mengurangi ancaman militer Iran, yang menurutnya dapat membuka jalan bagi pembukaan Selat Hormuz secara otomatis.
“Saya pikir selat itu akan terbuka dengan sendirinya. Saya sudah melumpuhkan negara itu. Mereka tidak punya kekuatan lagi, dan biarkan negara-negara yang menggunakan selat itu membuka sendiri,” kata Trump kepada New York Post.
Pernyataan tersebut dapat memicu kekhawatiran negara-negara Teluk, yang sebelumnya merasa tenang setelah Trump mengatakan kepada Fox News pekan lalu bahwa AS tetap akan melindungi sekutu Teluk meskipun meninggalkan Iran.
“Mereka mungkin ingin kami tetap di sana,” kata Trump. “Jika kami tidak tinggal, kami tetap akan melindungi mereka.”
Namun, jika AS mengakhiri operasi militer dan menyerahkan Selat Hormuz kepada koalisi lain, langkah tersebut dapat mengurangi daya tawar Washington terhadap Teheran, terutama karena sekutu Eropa dan Teluk lebih tertarik pada misi terbatas untuk membuka jalur pelayaran, bukan tujuan strategis yang lebih luas.
Menjelang perang saat ini, Trump mengerahkan kekuatan militer besar ke Timur Tengah, mulai dari pesawat tempur hingga kelompok tempur kapal induk. Namun, upaya tersebut belum mampu memaksa Iran menghentikan program misil atau dukungan terhadap kelompok proksi seperti Hizbullah dan Hamas.
Uni Emirat Arab menjadi satu-satunya negara Teluk Arab yang menyatakan siap bergabung dalam kekuatan angkatan laut untuk membuka kembali Selat Hormuz atau memberikan pengawalan. Sementara itu, Bahrain tengah mengupayakan resolusi Dewan Keamanan PBB untuk memberikan mandat pada satuan tugas angkatan laut.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan pembukaan kembali selat bukan semata tanggung jawab Amerika Serikat. “Negara lain harus mulai belajar untuk berjuang demi kepentingannya sendiri,” katanya.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan AS sedang berupaya membuka kembali selat, namun menegaskan tujuan utama operasi adalah menghancurkan angkatan laut Iran, misil balistik Iran, infrastruktur industri pertahanan, dan mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa dunia harus bereaksi jika Iran tetap mengontrol Selat Hormuz setelah operasi berakhir.
“Tidak dapat diterima jika setelah operasi berakhir, Iran tetap mengendalikan selat dan meminta pembayaran untuk melintas. Seluruh dunia seharusnya marah. Dampaknya bagi kami kecil, tetapi bagi negara lain jauh lebih besar,” ujar Rubio.
(bbn)





























