“Artinya, embargo satu wilayah tidak lagi memiliki daya rusak ‘mematikan’ yang sama terhadap ekonomi global,” kata Sutopo ketika dihubungi, Senin (30/3/2026).
“Potensi terjadinya price shock sangat besar, tetapi potensi terjadinya supply paralysis seperti pada 1973 jauh lebih kecil. Situasi saat ini lebih tepat disebut sebagai ‘krisis distribusi geopolitik’. Tantangannya bukan lagi 'Apakah minyaknya ada?', melainkan 'Seberapa mahal biaya untuk memastikan minyak itu sampai ke tujuan?',” tegas dia.
Selain itu, Sutopo mencatat pada era 1970-an, ekonomi global masih sangat bergantung terhadap energi dari minyak mentah. Saat ini, diversifikasi sumber energi sudah diterapkan oleh berbagai negara.
“Secara struktural, ekonomi global kini lebih resilien terhadap lonjakan harga minyak dibandingkan 50 tahun lalu,” papar dia.
Di sisi lain, setelah krisis minyak pada 1973, negara-negara maju telah membentuk International Energy Agency (IEA) dan membangun cadangan minyak strategis atau strategic petroleum reserve (SPR).
Dia menyatakan cadangan minyak darurat tersebut jika dilepaskan ke pasar diharapkan dapat meredakan lonjakan harga minyak mentah, sementara pada 1973 instrumen serupa belum tersedia.
“Meskipun harga bisa melonjak tinggi kecil kemungkinan kita akan melihat antrean bensin yang melumpuhkan total peradaban seperti 1973,” ungkap dia.
Sutopo menilai pasar minyak saat ini merupakan pasar global yang sangat cair dengan instrumen derivatif yang kompleks. Untuk itu, kenaikan harga bisa terjadi lebih cepat meskipun pasokan komoditas tersebut masih tersedia.
Dia juga menilai negara-negara produsen minyak seperti Arab Saudi tetap membutuhkan harga minyak yang stabil. Menurut dia, harga yang terlalu tinggi justru bakal mempercepat pengurangan penggunaan energi fosil dan merugikan eksportir minyak.
Berujung Krisis
Berbeda pandangan, Founder & Advisor ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto menilai penutupan Selat Hormuz dalam jangka panjang bisa saja berujung pada krisis minyak global seperti yang terjadi pada 1973.
Dia meyakini peristiwa pada 1973 bisa kembali terjadi meskipun pemicunya berbeda, kala itu Timur Tengah memboikot negara-negara pendukung Israel dengan mengurangi hingga menyetop pasokan minyak.
Sementara saat ini, pasokan minyak dari negara Timur Tengah sulit diakses pasar global sebab jalur perdagangan di Selat Hormuz ditutup.
Di sisi lain, kondisi global yang sudah berubah dengan adanya cadangan strategis hingga diversifikasi sumber energi, dinilai belum cukup meredam amuk harga minyak dunia jika penutupan Selat Hormuz terjadi lebih dari 3 bulan.
“Ya, kondisi saat ini bisa mengarah pada keadaan krisis minyak seperti 1973; dalam pengertian sama-sama terjadi shortage pasokan minyak di pasar global, meskipun faktor pemicu dan konteks keadaannya relatif berbeda,” kata Pri Agung ketika dihubungi, Senin (30/3/2026).
Untuk diketahui, pada Oktober 1973, perang Yom Kippur meletus antara Israel dengan negara-negara Arab yang dipimpin oleh Mesir dan Suriah.
Kondisi tersebut ditanggapi oleh enam negara penghasil minyak di Teluk Persia yang merupakan anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dengan menaikkan harga minyak mentah.
Dalam laporan Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) dijelaskan bahwa Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Arab (OAPEC) memutuskan untuk mengurangi produksi minyak secara bertahap dan memberlakukan embargo minyak terhadap negara-negara yang mendukung Israel, termasuk AS, Belanda, Portugal, dan Afrika Selatan
ERIA mencatat bahwa sebelum krisis minyak pada 1973 terjadi, harga minyak mentah ditentukan oleh perusahaan minyak besar, namun setelah krisis terjadi negara-negara penghasil minyak mengambil alih peran tersebut. Akibatnya, harga minyak mentah melonjak empat kali lipat, memberikan pukulan berat bagi perekonomian dunia.
Berdasarkan data Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), harga minyak dunia sebelum 1970 tercatat stabil di sekitar US$2/barel. Akan tetapi, setelah perang Yom Kippur terjadi pada 1973 harga minyak dunia melonjak ke level US$12/barel.
Sekadar informasi, harga minyak mentah dunia kembali merangkak naik setelah kelompok Houthi di Yaman, yang didukung Iran, resmi terlibat dalam perang Timur Tengah.
Situasi ini diperparah dengan tibanya lebih banyak pasukan AS di kawasan tersebut, yang memicu kekhawatiran akan eskalasi besar serta guncangan lanjutan di pasar energi.
Harga minyak Brent untuk pengiriman Mei naik 1,8% menjadi US$114,65/barel hari ini pada pukul 11:21 pagi di Singapura. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik 0,9% menjadi US$100,55/barel.
(azr/wdh)




























