Logo Bloomberg Technoz

Ada Potensi Windfall Profit, APBI Ramal Harga Batu Bara Moderat

Artha Adventy
20 March 2026 17:15

Seorang pekerja mengambil sampel batu bara dari kereta api di tambang batu bara terbuka PT Bukit Asam di Tanjung Enim./Bloomberg-Dadang Tri
Seorang pekerja mengambil sampel batu bara dari kereta api di tambang batu bara terbuka PT Bukit Asam di Tanjung Enim./Bloomberg-Dadang Tri

Bloomberg Technoz, Jakarta -  Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) memperkirakan pergerakan harga batu bara ke depan masih akan cenderung moderat dengan potensi kenaikan yang terbatas, di tengah dinamika pasar global dan eskalasi geopolitik serta adanya rencana pemerintah menaikkan RKAB 2026. 

Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani menyebut, meskipun konflik berpotensi mendorong harga komoditas energi, dampaknya terhadap batu bara tidak akan merata dan relatif terbatas. Tekanan harga terjadi jika pasokan global meningkat secara signifikan. 

“Namun dalam kondisi saat ini, pasar masih cukup segmented. Kenaikan harga dinilai lebih banyak terjadi pada jenis batu bara berkalori tinggi (high CV), sementara segmen low hingga mid CV cenderung stabil,” kata Gita, Jumat (20/3/2026). 


Dikarenakan kondisi pasar batu bara saat ini masih bersifat segmented, ia menyebut tambahan pasokan tidak serta-merta mendorong lonjakan harga secara signifikan. Sejumlah faktor lain seperti biaya angkut (freight cost), harga minyak, serta kebijakan impor negara tujuan turut memengaruhi arah harga ke depan.

Sebelumnya, pemerintah berencana meningkatkan kembali kuota produksi batu bara pada tahun ini sebagai upaya menutup defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Langkah tersebut didorong oleh tren penguatan harga batu bara yang terjadi di tengah meningkatnya tensi konflik di kawasan Timur Tengah.