“Menurut saya dari 20 hari menuju 30 hari sudah cukup. Mengingat biaya feedstock dan sewa storage per tahun juga mahal. Ide pembangunan secara bertahap bagus. [Sebanyak] 70% industri dan penduduk ada di Pulau Jawa, sehingga yang di bangun terlebih dahulu di Pulau Jawa,” kata Hadi ketika dihubungi, Rabu (18/3/2026).
Dia memperkirakan biaya pembangunan tangki penyimpanan minyak agar umur cadangan Indonesia naik menjadi 30 hari bakal menghabiskan biaya sekitar Rp43 triliun.
Hadi bahkan menyarankan agar pemerintah menggaet badan usaha swasta untuk membangun storage tersebut, kemudian PT Pertamina (Persero) hanya perlu menyewanya dengan biaya sewa untuk satu tangki berukuran 2 juta barel sekitar US$200.000 atau Rp3,38 miliar per hari.
Menurut dia, Indonesia bakal lebih diuntungkan untuk menyewa tangki tersebut daripada harus membangunnya dari awal. Alasannya, selain biaya yang tinggi, pemerintah nantinya juga perlu membangun fasilitas pendukung seperti dermaga khusus.
“Ruang fiskal kita terlalu sempit untuk itu, maka rekomendasi saya kolaborasi dengan BUMN atau badan usaha swasta. Ini praktik yang lumrah dalam bisnis supply chain management BBM,” tegas dia.
Adapun, Hadi memperkirakan tangki penyimpanan minyak mentah baru yang dibutuhkan Indonesia guna menambah cadangan BBM menjadi 80 hari adalah sebanyak 56 unit dengan kapasitas masing-masing 2 juta barel.
Dia memproyeksikan biaya pembangunan 56 tangki minyak baru untuk menambah umur cadangan BBM selama 70 hari bakal menghabiskan biaya Rp378,65 triliun.
Hadi menjelaskan dengan asumsi konsumsi BBM nasional sekitar 1,6 juta barel per hari (bph), maka tambahan cadangan untuk 70 hari bakal mencapai 112 juta barel yang setara dengan 56 tangki penyimpanan berkapasitas 2 juta barel.
Hadi menyatakan harga sewa satu tangki minyak berkapasitas 2 juta barel adalah sekitar US$200.000 atau Rp3,38 miliar per hari. Dengan begitu, total biaya sewa bisa mencapai US$11,2 juta atau sekitar Rp189,3 miliar per hari.
Sementara itu, untuk periode satu tahun, dana yang dibutuhkan sekitar US$4,08 miliar atau setara Rp68,97 triliun per tahun.
Jika Indonesia membangun tangki penyimpanan baru, Hadi memperkirakan satu tangki minyak berkapasitas 2 juta barel bakal menghabiskan dana US$400 juta atau setara Rp6,76 triliun sehingga tambahan 56 tangki minyak membutuhkan dana US$22,4 miliar atau sekitar Rp378,65 triliun.
Untuk diketahui, cadangan minyak mentah dan BBM Indonesia saat ini tercatat di level 20—23 hari dengan kapasitas cadangan maksimum 25 hari, masih lebih rendah dibandingkan standar International Energy Agency (IEA) yang menetapkan cadangan setara dengan setidaknya 90 hari impor bersih.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan storage tersebut bakal dibangun menyesuaikan kebutuhan masyarakat, tak hanya dibangun di dekat kilang untuk meningkatkan kemampuan stok minyak mentah untuk diolah di kilang tersebut.
Dengan begitu, Kementerian ESDM bakal mendorong pembangunan storage atau tangki minyak mentah di sejumlah lokasi, termasuk dekat kilang Dumai hingga kilang Cilacap.
“Jadi untuk ini sesuai dengan kebutuhan ya mungkin itu nanti kita tingkatkan untuk Cilacap, untuk Dumai itu kan merupakan jalur untuk kilang di dalam negeri. Ini akan kita lihat lokasinya, akan kita tetapkan. Yang mudah-mudahan ini dari evaluasi secara prioritas mana yang lebih duluan,” kata Yuliot kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (13/3/2026).
Yuliot menambahkan bahwa storage tersebut bakal dibangun untuk mempertebal cadangan operasional nasional dan sebagai pijakan awal untuk membangun cadangan penyangga energi (CPE).
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri mengaku informasi konglomerasi migas India, Essar Group, berminat untuk berinvestasi membangun storage atau tangki penyimpanan minyak di Indonesia.
Adapun, Essar Group dikabarkan bakal berinvestasi membangun storage minyak mentah melalui entitas usahanya yang berbasis di Inggris, Essar Oil UK Ltd.
“Tentang storage tentunya memang waktu itu kami juga sudah bertemu dengan tim Pak Menteri yaitu dari Essar Group salah satunya, sedang penjajakan dan kemarin sudah berkunjung ke lokasi kilang kami yang ada di Plaju. Tentunya untuk melihat potensi kerja sama untuk pembangunan storage untuk tambahan,” kata Simon kepada awak media di Kantor BPH Migas, Kamis (12/3/2026).
Sekadar informasi, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) melaporkan saat ini kapasitas penyimpanan BBM nasional mencapai 9,16 juta kl.
Anggota komite BPH Migas Fathul Nugroho menjelaskan, dari besaran itu, sebanyak 67% atau 6,1 juta kl di antaranya merupakan milik PT Pertamina (Persero), smentara 33% penyimpanan BBM di RI atau 3,06 juta kl dimiliki non-Pertamina.
Berikut 5 provinsi yang memiliki kapasitas penyimpanan BBM terbesar:
- Jawa Timur sebesar 1,15 juta kl
- Jawa Barat sebesar 950.000 kl
- DKI Jakarta sebesar 910.000 Kl
- Kepulauan Riau sebesar 890.000 kl
- Banten sebesar 770.000 Kl
(azr/wdh)






























