Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Masih Tertekan Harga Minyak dan Risiko Fiskal

Tim Riset Bloomberg Technoz
17 March 2026 08:26

Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolas AS di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolas AS di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pergerakan nilai kontrak rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) bergerak defensif. Dalam tiga hari terakhir, nilai kontrak rupiah sempat menyentuh level Rp17.000-an/US$ beberapa kali. 

Pagi ini, Selasa (17/3/2026), rupiah offshore dibanderol Rp16.975/US$ saat pembukaan perdagangan. Namun satu jam setelah pembukaan rupiah sempat melemah dan menyentuh Rp17.016/US$ pada 05:24 WIB, lalu kembali menguat terbatas 0,3% menjadi Rp16.981/US$ pada 07:20 WIB. 

Pergerakan nilai kontrak rupiah offshore dalam tiga hari terakhir (17/3/2026). (Bloomberg)

Indeks dolar AS, meski kembali berada di level 99,87, masih menunjukkan tren penguatan. Situasi ini membawa pergerakan beragam bagi mata uang Asia.


Penguatan terjadi pada baht Thailand, ringgit Malaysia, dan dolar Hong Kong. Sebaliknya, yen Jepang, dolar Singapura, dan yuan offshore China kembali tergelincir. 

Mata uang Asia di pasar spot yang sudah dibuka Selasa (17/3/2026). (Bloomberg)

Harga Minyak