Logo Bloomberg Technoz

Pergerakan defensif rupiah yang cukup intens terjadi sejak akhir Februari, dan semakin defensif pada awal Maret setelah terjadi lonjakan harga minyak akibat serangan AS dan Israel terhadap Iran. 

Dengan kenaikan harga minyak mentah dunia hingga US$100 per barel membuat pasar khawatir terhadap kondisi fiskal Indonesia. Sebab dengan selisih kenaikan harga minyak US$10 per barel dari angka yang ditetapkan dalam asumsi dasar APBN, Indonesia harus membayar lebih mahal dan dapat berkontribusi terhadap defisit sebesar Rp50 triliun. 

Harga minyak yang dipicu oleh konflik berkepanjangan ini semakin menekan mata uang rupiah sekaligus meningkatkan sorotan terhadap kebijakan fiskal pemerintah. Rencana pemerintah mengenai kemungkinan batas defisit akan terlampaui dengan perubahan undang-undang membuat investor resah. 

Selain pelemahan rupiah, keresahan investor juga terlihat pada pergerakan imbal hasil di pasar surat utang negara (SUN). Imbal hasil (yield) melonjak naik pada semua tenor. Pada tenor 10Y yang menjadi rujukan investor telah diganjar mahal menjadi 6,9% dan menjadi level tertinggi sejak Mei tahun lalu. 

Proyeksi Rupiah

Tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek masih berpotensi berlanjut. Lonjakan harga energi global tidak cuma meningkatkan biaya impor Indonesia, tapi juga memperbesar risiko fiskal melalui kenaikan beban subsidi energi. 

Faktor eksternal dari sisi penguatan indeks dolar AS yang masih bertahan hampir di level 100 lagi, menunjukkan masih tingginya permintaan terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian global. Apabila tren penguatan dolar masih berlanjut, tekanan rupiah berpotensi makin besar. 

Di sisi lain ruang pelonggaran moneter BI juga jadi semakin terbatas. Dengan inflasi domestik yang meningkat, apalagi tiga bulan di awal tahun ini ada efek musiman yang membuat konsumsi meningkat dan dapat menyebabkan inflasi. 

Meski begitu, sebenarnya prospek rupiah tidak sepenuhnya suram. Asalkan pemerintah mampu menjaga disiplin fiskal dan menegaskan komitmen terhadap batas defisit anggaran, sepertinya kepercayaan investor akan kembali pulih secara bertahap. 

Namun, jika melihat kondisi dan sentimen saat ini yang belum sepenuhnya reda agaknya rupiah masih akan bergerak volatil di kisaran Rp16.900-17.200/US$.

Bagi investor, periode ini libur di pasar keuangan kali ini cukup menuntut kewaspadaan yang tinggi, mengingat dinamika geopolitik masih terjadi dan menyebabkan kenaikan harga energi. Di sisi lain kebijakan fiskal Indonesia juga belum berkenan untuk mengikuti atau menyesuaikan dengan kondisi saat ini. 

Hari ini BI akan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) untuk menetapkan suku bunga acuan. Konsensus ekonom yang dihimpun oleh Bloomberg memperkirakan BI akan tetap menahan suku bunga di 4,75% mengingat kondisi rupiah yang masih volatil. 

(dsp/aji)

No more pages