Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Masih Mode Defensif di Tengah Tekanan Domestik

Tim Riset Bloomberg Technoz
13 March 2026 08:02

Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah offshore pagi ini mendapat sedikit tenaga meski masih berada di level Rp16.900/US$. Di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) rupiah bergerak dari Rp16.920/US$ kala pembukaan perdagangan, lalu bergeser menguat terbatas 0,09% ke Rp16.906/US$. 

Perubahan nilai kontrak rupiah offshore yang menguat sejalan dengan pergerakan mata uang Asia di pasar yang telah dibuka. Yen Jepang menguat 0,2% disusul dolar Singapura menguat terbatas  sebesar 0,07% dan 0,05%, dan yuan offshore China 0,05% dan won Korea Selatan 0,02%. 

Mata uang Asia pada Jumat pagi (13/3/2026). (Bloomberg)

Indeks dolar AS pagi ini tergelincir meski masih berada di level 99. Pelemahan dolar AS sebesar 0,05% pada pembukaan lalu tak berselang lama menjadi 0,1% ke posisi 99,64, setelah kemarin berada di posisi 99,73.


Meski melemah, indeks dolar AS masih ditopang oleh kondisi pasar yang cenderung mencari aset aman di tengah ketidakpastian perang di Timur Tengah, disertai adanya kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. 

Sebaliknya, harga minyak mentah masih melambung di level US$101,68 per barel naik sebesar 1,21%, melanjutkan penguatan 9,22% kemarin yang ditutup di US$100,46 per barel. Bagi rupiah kenaikan harga minyak ini dapat menyebabkan tekanan ganda. Dalam kalkulasi Kementerian Keuangan, defisit dapat mencapai 3,6% dalam skenario terburuk jika harga minyak melambung lebih lama.