Dengan kenaikan harga minyak mentah yang bertahan lama akibat ketidakpastian durasi perang, rupiah kembali menghadapi sentimen risk-off. Selain itu, kenaikan minyak juga dapat memicu imported inflation alias kenaikan harga barang dan jasa yang disebabkan oleh pelemahan nilai tukar rupiah.
Dengan berbagai tekanan yang muncul, nilai tukar rupiah dalam jangka pendek diperkirakan cenderung bergerak lebih lemah dibandingkan mata uang lain di kawasan, terutama akibat faktor-faktor domestik.
Tekanan ini berkaitan dengan kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia. Investor masih mencermati potensi pelebaran defisit anggaran, termasuk risiko penurunan peringkat utang, sehingga tingkat kepercayaan terhadap aset domestik belum sepenuhnya pulih.
Di sisi lain, daya tarik investasi pada aset rupiah juga sedikit menurun setelah Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga sebanyak lima kali sepanjang 2025 dengan total penurunan mencapai 125 basis poin. Ketika selisih suku bunga dengan negara lain semakin menyempit, minat investor asing untuk menempatkan dananya di Indonesia juga berpotensi berkurang.
Isu fiskal kembali menjadi sorotan setelah pemerintah memastikan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak akan dipangkas. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan alokasi dana untuk program tersebut tetap dipertahankan, meskipun pemerintah meminta Badan Gizi Nasional meningkatkan efisiensi dalam penggunaan anggaran.
Selain itu, pasar akan menantikan pengumuman suku bunga oleh Bank Indonesia pekan mendatang. BI kemungkinan akan mempertahankan sukubunga acuannya di level 4,75% untuk menjaga selisih suku bunga untuk menopang rupiah.
Volatilitas rupiah yang cenderung tinggi ditambah inflasi yang belum cukup jinak sepertinya masih akan menjadi pertimbangan utama BI.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, rupiah masih ada risiko melemah. Target terdekat menuju level Rp16.900/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua berpotensi tertahan di level Rp16.950/US$.
Selama nantinya nilai rupiah bertengger di atas Rp16.950/US$, maka masih ada potensi untuk lanjut melemah hingga mencapai Rp17.000/US$.
Sementara itu, trendline sebelumnya pada time frame harian menjadi resistance psikologis potensial di level Rp16.860/US$. Kemudian, target penguatan lanjutan adalah level Rp16.800/US$.
(dsp/aji)





























