Logo Bloomberg Technoz

Skema Pembiayaan

Lebih lanjut, Dadan menyatakan hingga saat ini pemerintah masih mengkaji skema pembiayaan untuk menjalankan mandat pencadangan energi tersebut, utamanya terkait apakah seluruh pengadaan ditanggung oleh negara atau tidak.

“Pemerintah saat ini terus mengkaji skema yang paling optimal, khususnya dengan mempertimbangkan aspek fiskal apabila seluruh pengadaan ditanggung oleh negara,” ungkap dia.

Ketahanan BBM dan LPG RI per 8 Maret 2026 di MOR Pertamina./dok. ESDM

Di sisi lain, Dadan mengungkapkan kondisi cadangan operasional BBM nasional saat ini berada di kisaran 21—23 hari.

Dia meyakini pemerintah melalui Kementerian ESDM bakal terus menjaga tingkat cadangan agar tetap stabil, sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan energi di tengah dinamika geopolitik dan volatilitas pasar energi.

Dadan menambahkan impor minyak mentah Indonesia pada 2025 berasal dari berbagai negara mitra sehingga sumbernya terdiversifikasi. 

Antara lain Nigeria sekitar 25%, Angola 21%, Arab Saudi sekitar 19%, Brasil 9%, Australia 8%, serta sejumlah negara lainnya seperti Gabon, Amerika Serikat (AS), dan Malaysia.  

“Untuk crude oil, impor dari Timur Tengah memiliki porsi yang cukup signifikan dengan kontribusi sekitar 20% terhadap total impor. Pemerintah bersama dengan Pertamina sudah memutuskan untuk mengimpor crude dari Amerika,” tegasnya.

Untuk impor BBM, berdasarkan data Kementerian ESDM, pada 2025 Indonesia tercatat mengimpor BBM paling banyak dari Singapura dan Malaysia.

Terdapat negara lainnya yang turut menjadi sumber impor BBM RI, antara lain; China, Korea Selatan, Oman, Uni Emirat Arab (UEA), India, Mesir, Jepang, dan Taiwan.

Di tengah potensi pengetatan pasokan dan melonjaknya harga komoditas migas akibat konflik di Teluk Persia, pemerintah akhirnya berencana membangun storage minyak mentah untuk menambah umur cadangan operasional nasional.

Adapun, saat ini stok operasional BBM nasional diklaim berada di level 21—23 hari. Sementara itu, kapasitas penyimpanan minyak mentah nasional, diklaim memiliki kemampuan untuk menampung stok selama 25 hari.

Rencananya tersebut diumumkan setelah terjadinya lonjakan harga minyak dunia hingga menembus US$100/barel serta terjadinya persaingan pencarian pasokan migas gegara penutupan jalur perdagangan migas dunia di Selat Hormuz.

Sekadar catatan, Indonesia berencana menyimpan stok penyangga (buffer stock) bahan BBM jenis bensin sejumlah 9,64 juta barel, gas minyak cair atau liquefied petroleum gas (LPG) sebanyak 525,78 ribu metrik ton, dan minyak bumi sebesar 10,17 juta barel hingga 2035.

Ketiga jenis komoditas tersebut masuk ke dalam jenis CPE, yang merupakan jumlah ketersediaan sumber energi serta komoditas energi yang disimpan secara nasional dan diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional pada masa tertentu.

Perinciannya, jenis CPE di antaranya adalah BBM jenis bensin yang digunakan sebagai bahan bakar transportasi; LPG sebagai bahan bakar keperluan industri, transportasi, komersial besar, menengah, dan kecil, petani, nelayan, dan rumah tangga; serta minyak bumi yang digunakan sebagai bahan baku keperluan operasi kilang minyak.

Penyediaan CPE bertujuan untuk menjamin ketahanan energi nasional, mengatasi krisis energi, dan darurat energi dan melaksanakan pembangunan berkelanjutan.

Sementara itu, waktu CPE —yang merupakan durasi yang ditentukan untuk memenuhi jumlah CPE — ditetapkan sampai dengan kurun 2035 yang dipenuhi sesuai dengan kemampuan keuangan negara. 

Adapun, pengadaan berasal dari produksi dalam negeri dan/atau luar negeri. Sementara itu, CPE disimpan dan disalurkan dalam infrastruktur CPE.

(azr/wdh)

No more pages