Namun, juru bicara junta, Mayor Jenderal Zaw Min Tun, mengatakan dalam pernyataan bahwa pemberitahuan tersebut bukan berarti Myanmar kekurangan cadangan bahan bakar, menambahkan bahwa langkah tersebut dikeluarkan sebagai tindakan pencegahan untuk bersiap menghadapi gangguan jangka panjang yang mungkin terjadi dan untuk memastikan bahan bakar digunakan secara lebih sistematis.
Negara tersebut memiliki sekitar 60 juta galon bensin dan hampir 70 juta galon solar dalam cadangan, cukup untuk sekitar 40 hari konsumsi nasional, menurut juru bicara. Konsumsi bahan bakar harian sekitar 3,2 juta galon.
"Saat ini ada dua kapal tanker minyak di pelabuhan yang menunggu bongkar muat, sementara 14 kapal lainnya yang sudah dibeli sedang dalam perjalanan ke Myanmar," kata Zaw Min Tun. Kapal-kapal tersebut diperkirakan akan bersandar di pelabuhan di wilayah Yangon dalam beberapa hari mendatang.
Meski demikian, kelangkaan bahan bakar mulai terasa di beberapa bagian negara. Antrean panjang terbentuk di SPBU di kota-kota termasuk Mandalay, sekitar 245 kilometer utara ibu kota Naypyidaw, sementara pasokan menipis di Negara Bagian Shan setelah impor dari negara tetangga Thailand dihentikan, lapor media lokal.
Zaw Min Tun mendesak masyarakat untuk tidak panik karena negara ini sebagian besar mengimpor bahan bakar dari Singapura dan Malaysia, di mana kilang-kilang minyak tetap beroperasi meski ada konflik di Timur Tengah. "Kami tidak melihat kemungkinan kekurangan bahan bakar di sini," katanya. Stasiun pengisian bahan bakar akan tetap buka seperti biasa.
Sementara itu, angkutan umum, truk bahan bakar, dan layanan esensial lainnya akan dibebaskan dari pembatasan, yang akan tetap berlaku hingga pemberitahuan lebih lanjut, kata dewan tersebut. Pihak berwenang juga memperingatkan agar tidak menimbun atau menjual bahan bakar dengan harga lebih tinggi, dengan mengatakan pelanggar akan menghadapi tindakan hukum.
(bbn)































