Ekonom: Pelemahan Rupiah Picu Lonjakan Inflasi Barang Impor
Pramesti Regita Cindy
09 March 2026 15:40

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp17.000/US$ dinilai berpotensi meningkatkan tekanan inflasi. Tekanan ini khususnya berasal dari inflasi barang impor atau imported inflation.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Abdul Manap Pulungan mengatakan depresiasi rupiah memiliki dampak signifikan terhadap perekonomian nasional, terutama melalui kenaikan harga barang impor atau imported inflation yang kemudian menular ke konsumsi di pasar domestik.
"Data BPS mengonfirmasi bahwa depresiasi rupiah menyebabkan inflasi barang impor naik cukup tinggi. Misalnya di kuartal pertama tahun lalu, inflasi impor sampai 7,82%," jelas Manap dalam agenda diskusi INDEF secara daring, Senin (9/3/2026).
Sebagai catatan saja, inflasi harga impor pada 2025 mengalami fluktuasi. Pada triwulan I mencapai 7,82%, sementara pada triwulan II turun 4,30% lalu kembali naik di triwulan III-2025 dengan 5,43% dan kembali turun di triwulan IV di 3,65%.
Lebih lanjut, menurutnya, kenaikan harga impor tersebut akan langsung mempengaruhi biaya produksi industri dalam negeri. Pasalnya, banyak sektor manufaktur masih bergantung pada bahan baku dari luar negeri. Ketika harga bahan baku impor meningkat, produsen berpotensi meneruskan kenaikan biaya tersebut ke harga jual barang.




























