Logo Bloomberg Technoz

Ekonom: Rupiah Perkasa, Peluang BI Naikkan Suku Bunga Mengecil

Redaksi
13 June 2026 11:30

Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah ditutup menguat 0,68% pada perdagangan Jumat (12/6/2026), ke posisi Rp17.870/US$, tercatat menguat 0,84% sepanjang pekan ini, menjadi kinerja terbaik mingguan sejak Maret 2026 usai Bank Indonesia menaikkan suku bunga menjadi 5,5%, menunjukkan keberhasilan intervensi bank sentral.

Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede  menilai penguatan ini membuat peluang BI kembali menaikkan suku bunga pada Rapat Dewa Gubernur (RDG) mendatang mulai mengecil apabila tren penguatan rupiah dapat bertahan.

“Setelah BI menaikkan suku bunga acuan secara beruntun menjadi 5,50%, sinyal stabilisasi sudah cukup kuat. Jika rupiah bertahan di bawah Rp18.000 per dolar AS, arus dana asing mulai kembali masuk, dan tekanan harga minyak tidak memburuk, maka pilihan yang paling masuk akal adalah menahan BI Rate terlebih dahulu sambil melihat dampak kebijakan yang baru saja diambil,” kata Josua kepada Bloomberg Technoz, Jumat (12/6/2026)


Josua menilai peluang BI menahan suku bunga di RDG mendatang lebih besar, sekitar 80-90%. Peluang kenaikan tambahan 25bps tetap ada, sekitar 10-20%, terutama jika rupiah kembali melemah ke atas Rp18.100 sampai Rp18.200 per dolar AS, harga minyak naik tajam, imbal hasil surat utang Amerika Serikat meningkat, atau arus dana asing kembali keluar dari SBN dan saham.

Kenaikan lebih besar dari 25bps menurut Josua sebaiknya hanya menjadi pilihan terakhir jika tekanan rupiah kembali tidak terkendali.