RI Kebut Impor Migas AS, Spek Kilang dan Waktu Angkut Jadi Soal
Azura Yumna Ramadani Purnama
06 March 2026 11:00

Bloomberg Technoz, Jakarta – Center of Reform on Economics (Core) memandang percepatan impor minyak dan gas (migas) dari Amerika Serikat (AS) guna mengatasi ditutupnya Selat Hormuz bakal menimbulkan sejumlah masalah, jika pemerintah belum memastikan kesiapan kilang domestik dan durasi pengiriman.
Ekonom Energi Core Muhammad Ishak Razak memandang percepatan relokasi impor migas RI dari Singapura dan Timur Tengah ke AS tidak serta-merta diakibatkan penutupan jalur perdagangan migas di Selat Hormuz, Teluk Persia; melainkan merupakan realisasi dari kesepakatan dagang terkait tarif resiprokal.
Ishak mewaspadai membengkaknya biaya logistik impor sebab waktu pengiriman dari AS bisa mencapai 40 hari, jauh lebih lama dibandingkan dengan dari Singapura.
Selain itu, Ishak juga mempertanyakan spesifikasi minyak mentah yang diimpor oleh Indonesia. Alasannya, spesifikasi minyak mentah AS dengan kilang PT Pertamina (Persero) memiliki sejumlah perbedaan.
“Ada risiko ketidaksesuaian spesifikasi minyak mentah AS dengan kilang Pertamina yang dirancang untuk mengolah crude Timur Tengah. Jika harga dan biaya logistik lebih mahal, maka akan makin membebani APBN,” kata Ishak ketika dihubungi, Jumat (6/3/2026).
































