Logo Bloomberg Technoz

Sebagai importir minyak terbesar di dunia, China hanya menjadi eksportir bahan bakar ketiga di Asia. Namun, langkah ini mencerminkan persaingan di kawasan untuk memprioritaskan permintaan domestik.

Di Korea Selatan, produsen petrokimia Yeochun NCC menyatakan force majeure (kondisi kahar) pada beberapa penjualannya karena gangguan dalam pengiriman bahan baku nafta.

Sementara itu, pemerintah menghadapi menipisnya pasokan gas minyak cair (LPG) yang digunakan untuk memasak, akibat gangguan pengiriman dari Timur Tengah, sumber utama bahan bakar Asia. India, salah satu pasar yang paling terdampak, sedang bernegosiasi dengan produsen.

Namun, karena kargo AS terlalu jauh, hanya ada sedikit alternatif untuk mengganti volume yang hilang, artinya beberapa negara mungkin terpaksa memberlakukan bentuk penjatahan. 

Negara lain sudah mempertimbangkan untuk memanfaatkan cadangan resmi. Di Jepang, yang mendapat 90% minyak mentahnya dari Timur Tengah, perusahaan penyulingan minyak meminta pemerintah untuk melepaskan minyak mentah dari cadangan minyak strategis negara.

Kekhawatiran lain bagi banyak ekonomi dan konsumen di Asia adalah biaya karena perebutan kargo telah menaikkan harga mulai dari bahan bakar jet hingga gasoil kapal dan mendorong harga ke level yang mengkhawatirkan.

Penyesuaian metodologi dalam mekanisme penetapan harga minyak fisik yang dijalankan oleh Platts, unit dari S&P Global Energy, semakin menyoroti lonjakan harga yang akan merugikan negara-negara importir dan konsumen.

Dihadapkan pada harga minyak dan bahan bakar yang sangat tinggi, Bangladesh sudah bersiap untuk mengurangi pasokan ke SPBU dan—di antara langkah-langkah lain—meminta warga untuk menghindari perjalanan pribadi yang tidak perlu.

(bbn)

No more pages