Rupiah Stagnan di Penutupan, Investor Masih Akumulasi SBN
Tim Riset Bloomberg Technoz
05 March 2026 15:18

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pergerakan rupiah stagnan dalam penutupan di pasar spot hari ini (5/3/2026) dan dibanderol di level Rp16.883/US$. Rupiah sempat dibuka di posisi Rp16.880/US$ tadi pagi, menyusul lemahnya beberapa mata uang Asia yang menjadi jangkar rupiah dan menguatnya indeks dolar AS.
Indeks dolar AS kembali terapresiasi 0,22% ke 98,98, dan menyeret baht Thailand, won Korea Selatan, ringgit Malaysia, dolar Taiwan, yuan offshore China, rupiah, dan dolar Hong Kong, serta yuan China ke zona merah. Sebaliknya rupee India menguat paling dominan sore ini sebesar 0,57% setelah bank sentral India menjual dolar AS baik di pasar offshore maupun onshore.
Melemahnya won Korea Selatan dan dolar Taiwan disinyalir lantaran kedua negara ini secara ekonomi paling rentan terhadap kenaikan harga energi akibat konflik Timur Tengah. "Risiko inflasi yang dipicu energi kemungkinan akan membuat Bank of Korea dan bank sentral Taiwan tetap berhati-hati," sebut Lloyd Chan, strategist valuta asing di MUFG, dalam sebuah catatan riset, seperti dikutip Bloomberg.
Sementara, stagnannya rupiah dalam penutupan sore ini meski Bank Indonesia terlihat aktif melakukan intervensi moneter, lantaran yen Jepang dan yuan offshore China yang selama ini menjadi jangkar mata uang kawasan Asia dalam posisi melemah.
Dari sisi domestik, revisi outlook dari stabil menjadi negatif oleh Fitch dan Moody's yang mencerminkan kekhawatiran terkait kredibilitas, risiko fiskal, dan sentimen investor sepertinya belum terlalu banyak memengaruhi pergerakan pasar keuangan. Selain pergerakan rupiah yang relatif terjaga dan belum menyentuh angka psikologisnya di level Rp17.000/US$, pergerakan pasar surat utang juga bervariasi.





























