Logo Bloomberg Technoz

Kenaikan harga minyak mentah dan gas alam akibat pecahnya perang di Timur Tengah membuat pelaku pasar semakin waspada terhadap pasar emerging markets, termasuk Indonesia. Terlebih Indonesia juga merupakan salah satu importir minyak dan berpotensi mengalami imported inflation atau kenaikan biaya impor akibat beban impor naik. 

Imported inflation ini berisiko merembet ke berbagai sektor: mulai dari transportasi, logistik, hingga harga pangan. Dalam konteks ini, tekanan rupiah bisa menjadi lingkaran umpan balik yang dapat memperburuk keadaan, pelemahan kurs meningkatkan biaya impor, sementara kenaikan biaya impor akan semakin memperbesar tekanan inflasi.

Hal ini membuat ruang kebijakan moneter akan kembali dilematis. Di satu sisi, stabilitas nilai tukar perlu dijaga untuk meredam imported inflation dan menjaga kepercayaan pasar. Di sisi lain, ruang pelonggaran moneter menjadi semakin sempit jika tekanan eksternal berlanjut dan The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Bursa Asia Merah Padam

Konflik perang terbuka AS-Iran yang terjadi juga menyapu bursa Asia dengan gelombang pelemahan. Bursa saham Jepang baik Nikkei maupun Topix melemah 2% hingga 3%. Sementara, indeks saham Korea Selatan, Kospi dan Kosdaq melemah 3,7% hingga 3,8%. 

Sedangkan indeks saham di Hang Seng turun 1,12%, indeks saham China, Chinext turun 2,57% dan CSI 300 turun 1,54%, begitu juga dengan bursa saham Taiwan, Indeks Taiex turun 2,20%. 

Aksi jual terjadi di bursa saham Asia setelah terjadi lonjakan harga energi membuat harga-harga saham terutama di pasar primadona investor seperti Kospi menjadi alarm bagi bursa saham di kawasan. 

Melansir Bloomberg News, pada perdagangan kemarin, saham Samsung merosot lebih dari 12% dalam dolar AS, sementara SK Hynix terperosok hampir 14%, setelah dana global melepas lebih dari US$3 miliar saham. Penurunan ini berlanjut dalam perdagangan setelah jam bursa.

Sebagai salah satu pasar saham dengan kinerja terbaik, menunjukkan likuiditas pasar semakin beranjak dari pasar emerging markets dan beralih ke aset safe haven, dolar AS. 

Begitu juga dengan pasar surat utang ikut terseret gelombang pelemahan. Tak terkecuali di pasar Indonesia. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) naik di hampir seluruh tenor. Investor asing cenderung berhati-hati, terutama ketika volatilitas global meningkat dan dolar kembali menguat mendekati level 99 pada indeksnya.

Di sisi domestik, risiko imported inflation menjadi perhatian utama. Indonesia sebagai importir minyak menghadapi potensi kenaikan biaya impor energi yang bisa menekan neraca perdagangan migas dan mempersempit ruang stabilisasi harga. Dalam situasi seperti ini, koordinasi fiskal dan moneter menjadi krusial untuk menjaga kepercayaan pasar.

Arah Rupiah

Di tengah kondisi saat ini dengan tekanan global yang cukup kuat, rupiah kembali berada dalam bayang-bayang pelemahan. 

Secara teknikal nilai rupiah berpotensi kembali melaju di tren pelemahan zona merah. Dengan melemah menuju area Rp16.880/US$ tembus support potensial pertama sampai dengan Rp16.900/US$, dengan mencermati support selanjutnya pada Rp16.950/US$.

Analisis Teknikal Rupiah Rabu 4 Maret 2026 (Sumber: Bloomberg)

Selama nantinya nilai rupiah bertengger di atas Rp16.950/US$ usai tertekan, maka masih ada potensi untuk lanjut melemah hingga mencapai support terjauhnya mencapai Rp17.000/US$.

Sementara itu, trendline sebelumnya pada time frame daily menjadi resistance psikologis potensial pada level Rp16.820/US$. Kemudian, target penguatan lanjutan untuk kembali ke level Rp16.800/US$.

Dalam lanskap geopolitik yang belum stabil, faktor eksternal masih menjadi penentu utama. Selama konflik Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda dan harga energi tetap tinggi, tekanan terhadap mata uang emerging markets, termasuk rupiah, akan sulit sepenuhnya hilang.

Pasar saat ini bergerak dari satu tajuk berita ke tajuk berikutnya. Volatilitas saat ini agaknya semakin menjadi norma baru yang kembali membuat pasar menimbang ulang posisinya dan mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. 

(riset/aji)

No more pages